Bandung, Prabunews.com-Anarko secara  filosofis yaitu yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.

Kata Anarko- biasa dipergunakan untuk membedakan antara satu paham dengan paham yang lainnya yang ada dilingkungan para anarkis. Beberapa penggunaan awalan anarko- yang merujuk pada paham dalam anarkisme antara lain:

Anarko-Sosialisme – Sebuah formasi dari Sosialisme libertarian dengan secara absolut menolak keberadaan negara maupun aturan, bentuk ini biasanya termasuk dalam segala bentuk anarkisme.

Anarko-Sindikalisme – Gerakan yang lebih fokus kepada pembangunan gerakan buruhanti-otoritarian, membangun solidaritas pekerja, dan juga menggunakan aksi langsung secara militan seperti mogok kerja massal.

Kemudian ada yang disebut Anarko-Komunisme adalah suatu bentuk dari anarkisme yang mengajarkan penghapusan negara (atau institusi kenegaraan) dan paham kapitalisme, untuk sebuah jaringan asosiasi sukarela di mana semua orang bebas untuk memenuhi kebutuhannya.

Anarko-Komunisme juga dikenal dengan sebutan anarkis komunisme, komunis anarkisme, anarkisme-komunis ataupun komunisme libertarian. Namun, walaupun semua anarkis komunis adalah komunis libertarian, tetapi tidak semua komunis libertarian adalah anarkis (menganut paham anarkisme), misalnya dewan komunis. hal yang membedakan anarko-komunisme dari varian lain dari libertarian komunisme adalah bentuk oposisinya terhadap segala bentuk kekuasaan politik, hierarki dan dominasi. Komunisme bisa tumbuh subur dinegara – negara miskin maupun negara berkembang, tetapi dengan runtuhnya negara-negara komunis yang kuat menyebabkan paham-paham komunis inipun tidak akan bisa berkembang menjadi besar.

Kelompok anarkisme-komunis menekankan pada egalitarianisme (persamaan), penghapusan hierarki sosial (social hierarchy), penghapusan perbedaan kelas, distribusi kesejahteraan yang merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan kesukarelaan.

Negara dan hak milik pribadi adalah hal-hal yang tidak seharusnya eksis dalam anarkisme-komunis. Setiap orang dan kelompok berhak dan bebas untuk berkontribusi pada produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan pilihannya sendiri.

Salah satu hal yang membedakan antara anarkisme-kolektif dengan anarkisme-komunis adalah pandangan mengenai gaji dan upah pekerja. Anarkisme-komunis berpendapat bahwa tidak ada satu carapun yang dapat mengukur kontribusi seseorang terhadap proses produksi dan ekonomi karena kesejahteraan adalah hasil dari produksi bersama. Sistem ekonomi yang berdasarkan gaji/upah pekerja dan hak milik adalah bentuk penyiksaan negara dan aparaturnya dengan tujuan untuk mempertahankan hak milik pribadi dan juga ketidakseimbangan hubungan ekonomi di antara para pelaku produksi. Selain itu, anarkisme-komunis menolak sistem gaji/upah pekerja dengan dasar filosofi bahwa pada hakikatnya manusia itu “malas” dan “egois”. Anarkisme-komunis juga mendukung komunisme (dalam sistem pemikiran Marxisme) dengan penekanan pada penjaminan kebebasan dan juga kesejahteraan bagi setiap orang, dan tidak mendukung komunisme dalam hal yang berhubungan dengan kekuasaan. Hal inilah yang membuat anarkisme-komunis sering disamakan dengan filsafat egalitarian.

Maka dengan itu pergerakan anarko di kota Bandung kemarin pada tanggal 21 Oktober 2019 di gedung merdeka Bandung diduga menjurus pada *anarko libertarian* karena menuntut kebebasan kebebasan dalam bernegara.

*Divisi Penelitian dan Pengembangan LSM PMPR INDONESIA*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × four =