Kesenian Tanjidor merupakan sebuah grup seni musik atau orkes yang sudah masuk katagori seni musik buhun alias tua atau uzur, seperti Tanjidor Pusaka Grup asal Kampung Tikungan,Desa Sengaraja Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi,pimpinan Engkong Bekong (80) merupakan generasi ketiga. Sekalipun para pemainnya sudah berusia uzur,namun ketika tampil di Panggung Teater Tertutup UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat,yang dibuka Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat,Erick Hendriyana mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat,Dedi Taufik,mampu membuat spontanitas para penonton yang didominasi kalangan pelajar SMP dan SMA yang ada dikawasan Utara Kota Bandung,berjoget diatas panggung. Sekalipun para pemain tanjidornya sudah berusia uzur, para siswa tetapa berjoget dengan ceria,terlebih ketika dilantunkan lagu Tnajung Perak yang dibawakan sang biduan dengan langgam dangdut.

Penampilan Tandjidor Pusaka Grup di panggung teater tertutup itu (20/11/2019), diawali dengan lagu lawas berlanggam keroncong yaitu Mega Mendung dan lagu Cente Manis berlanggam Betawi yang dibawakan Nulailah,cukup membuat suasana sedikit panas,tapi belum bisa menarik perhatian penonton untuk naik ke atas panggung. Begitu pun dengan penampilan para penyanyi lainnya, walaupun sudah dibimbing oleh dua pembawa acara yang kocak, H. Kasir dan Kong Haji. Tetapi ketika tampil penyanyi berusia muda yaitu Sri Fatma Suhartinah,dengan membawakan lagu berirama dangdut, mampu menarik perhatian penonton dan satu per satu para siswa memberanikan diri berjoget bersama sang biduan diatas panggung. Ada yang menarik lainnya dari penampilan Tanjidor asal Kabupaten Bekasi ini,yaitu Celo yang biasa dimainkan dengan cara digesek, kali ini dimainkan dengan cara dipetik dan dijadikan sebagai gendang dan bas. Sementara pimpinan Tandjidor Pusaka Grup Engkong Bekong (80)yang nampak asik dengan biolanya,serta jadi daya tarik tersendiri dan cukup memukau para penonton,karena gesekan biolanya sekaligus menjadi dirigen setiap lagu yang dimainkan.

Kesenian Tanjidor atau kesenian Tanji adalah kesenian berbentuk orkes,yang tumbuh dan berkembang diwilayah tanah Betawi,Bekasi dan sekitarnya sejak zaman penjajahan Belanda. Sedangkan kata tanji dor berasal dari bahasa portugis yaitu “TANGEDOR ” yg bearti sekumpulan alat musik  berdawai,seperti biola,cello,cuk lele dan banjo. Namun sejalan dengan arus perkembangan saat itu, oleh masyarakat/seniman tanji dor alat musiknya ditambah dengan beberapa alat musik tiup dan pukul,seperti tambur,goong dan perkusi. Kesenian ini sering tampil ditempat hajatan dengan formasi duduk melingkari meja, mengarak penganten keliling kampung sekitar, yang biasanya dilakukan menjelang subuh dan  untuk menyambut tamu kebesaran. Lagu-lagu yang dilantunkannya terdiri dari beberapa jenre/aliran gamang kromong klasik,gambang modern,jaipong dan dangdut. Berdasarkan sejarah, kesenian tanjidor sudah diperkenalkan sejak abad ke-19 atas rintisan Augustijn Michiels atau lebih dikenal dengan nama Mayor Jantje dari daerah Citrap atau Citeureup. Kesenian tanjidor pada masa awalnya berkembang di masyarakat Betawi dan berkembang merambah ke wilayah-wilayah masyarakat Sunda. Sebagai daerah penyangga Ibu Kota, Kabupaten Bekasi memiliki penduduk asli yang terdiri dari 2 suku bangsa dominan, yaitu Sunda dan Betawi. Keberadaan dua suku bangsa tersebut, turut memberikan warna yang berbeda pada kesenian Tanjidor, sehingga Kesnian Tanjidor yang berada di masyarakat Betawi relatif mempertahankan kemurniannya,sedangkan Kesenian Tanjidor yang berkembang diwilayah masyarakat Sunda mengalami beberapa perubahan sebagai bentuk adaptasi dengan budaya Sunda. Unsur perubahannya antara lain pada penggunan alat music kendang sebagai pengganti Drum,penambahan sebagian dari perangkat gamelan, serta lagu lagu yang dibawakannya didominasi lagu lagu Sunda.

Dewasa ini, baik kesenian Tanjidor Betawi maupun Sunda di Kabupaten Bekasi mengalami nasib yang sama, yaitu terancam punah. Ada banyak faktor yang menyebabkan kesenian tanjidor terancam punah, antara lain sumber daya manusianya,tidak ada regenerasi dan animo penikmatnya. Kondisi tersebut,menjadi sebuah PR besar bagi Pemerintah Daerah untuk dapat menjaga kelestarian kesenian-kesenian tradisional yang terancam punah tersebut. Sampai akhir tahun 80-an grup kesenian tandjidor sempat menjamur jumlahnya di seluruh wilayah Kabupaten Bekasi dan yang paling banyak di wilayah Kecamatan Lemahabang serta Serang, yang sekarang menjadi Kecamatan Cikarang Pusat dan Cikarang Selatan. Namun saat ini, tercatat tinggal 3 grup yang tersisa,yaitu 2 grup di Kecamatan Cikarang Pusat dan 1 grup di Kecamatan Cikarang Selatan. Sedangkan di daerah lainnya yang masih memiliki grup kesenian Tanjidor adalah Kecamatan Tarumajaya. Kesenian Tanjidor ini oleh Dinas Kebudayaan,Pemudan dan Olahraga Kabupaten Bekasi telah direvitalisasi bersama Kesenian Tunil dan setelah direvitalisasi dipentaskan pada Pagelaran Seni di pakalangan seni Situ Rawa Binong, Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Sabtu lalu (16/11/2019), dan  hasilnya cukup mendapat apresiasi dari masyarakat.

(Mz).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × one =