Bandung, Prabunews.com-Sejak ditetapkan hari batik pada 2 Oktober 2009 lalu oleh UNESCO, masyarakat kian menggemari batik dan sudah menjadi keseharian bagi masyarakat Indonesia,” ungkap Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Erick Henriansyah pada wartawan usai membuka pameran Batik Jawa Barat di Museum Sri Baduga Jawa Barat, Jln. BKR Bandung, Selasa (26/11/2019).

Dikatakan Erick, dulu batik merupakan barang langka dan mahal, serta hanya digunakan oleh kalangan bangsawan. “Nmaun saat ini, kain batik (pakaian batik) sudah dipakai sehari-hari oleh masyarakat, termasuk oleh kalangan generasi muda,” tambahnya.

Untuk lebih mengenalkan batik pada kalangan milenial, pihaknya menggelar pameran batik Jawa Barat yang berasal dari daerah-daerah utama penghasil batik khas Jawa Barat. “Yang dipamerkan kali ini, ada 30 jenis motif batik dari Cirebon, Indramayu, Garut, Ciamis dan Tasikmalaya. Daerah-daerah tersebut merupakan penghasil batik di Jabar sejak lama,” tandasnya.

Sementara itu, Ken Atik dari Yayasan Batik Jawa Barat menyebutkan, ada sejumlah daerah penghasil batik klasik di Jabar, seperti Cirebon, Indramayu, Ciamsi, Tasikmalaya dan Garut. Namun saat ini, perkembangan batik sudah menyebar ke seluruh Jabar, bahkan setiap daerah telah memiliki motif batik sendiri, termasuk Kota Bandung yang menjadi kota penggiat batik di Jawa Barat.

“Di Jawa Barat batik sangat berkembang pesat. Walaupun saat krisisi moneter banyak pengrajin batik yang beralih profesi. Namun semenjak ditetapkan hari batik nasional, ternyata membangkitkan industri batik di Jawa Barat, ” ujarnya.

Ken menyebutkan, batik salah satu bidang industri kreatif yang mudah beradaptasi dan menyerap tenaga kerja, serta banyak digemari masyarakat. “Tidak mungkin kan mudah beradaptasi, jika batik tidak bisa bertahan ratusan tahun hingga sekarang,” tambahnya.

Untuk menjaga batik klasik pihaknya terus melakukan revitalisasi batik yang hampir punah, seperti di Cirebon yang terkenal adalah motif Mega Mendung. Padahal ada di wilayah Keraton cirebon merupakan penghasil batik klasik yang khas dan tidak semua orang tahu.

“Begitu pun dengan di wilayah Tasikmalaya, baik kota dan kabupaten. Tasikmalaya memiliki motif batik yang berbeda dengan daerah lainnya, contohnya motif batik Sukapura. Namun sayang motif ini tidak pernah dibuat lagi oleh para pengrajin batik. Begitu pun dengan motif Gambir Seketi, Kurung Hayang yang mengadopsi dari motif Ayam Puger dari Jawa Tengah,” terangnya.

Motif batik klasik dan langka ini, kata Ken tidak bisa dibuat lagi oleh pengrajin, karena memiliki kesulitan yang tinggi dan tidak bisa diikuti oleh para pembatik. Akibatnya, para pembatik (pengrajin) lebih baik mengembangkan motif batik yang popular, seperti motif batik Mega Mendung, Parang dan sebagainya yang dipadukan dengan motif bunga, kupu-kupu, naga dan motif lainnya.

“Di Bandung ada motif batik yang klasik dan sempat popular, yaitu motif Merak Ngibing. Motif ini pernah dikenakan oleh Ibu Inggit Garnasih saat menjenguk Sukarno di penjara Banceuy. Namun motof ini tidak lagi dibuat karena sulit, begitu pun dengan motif Isuk Sore,” tambahnya.

Selain pameran batik, digelar pula lomba mural batik Jawa Barat yang diikuti 24 peserta (grup) SMA SMK se Jabar. Para peserta dibebaskan membuat mural batik sesuai dengan keinginan. Hasilnya akan dinilai oleh dewan juri yang tahu soal batik dan seni lukis, yakni Setiawan Sabana, Komarudin Hudia, dan Djalu. Selain itu juga Lomba Cerdas Cemat Permuseuman dan Pariwisata Jawa Barat untuk tingkat SLTA, SMK dan Umum yang akan berlangsung dari tanggal 27 sampai dengan 29 november 2019.

(Mz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − seven =