Bandung, Prabunews.com -Akhir-akhir ini perbincangan di berbagai media kembali menyoroti soal terjadinya penurunan muka tanah di wilayah Bandung Raya. Ada begitu banyak kekhawatiran manakala tidak ada upaya serta langkah-langkah pencegahan dengan lebih serius untuk menjawab permasalahan ini.

Untuk permasalahan ini sebagian mengatakan bahwa eksploitasi air tanah menjadi salah satu penyebabnya.
Salman Faruq, Kasie Konservasi Air, Tanah dan Keanekaragaman Hayati DLHK Kota Bandung mengatakan bahwa penurunan tanah (land subsidence) ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, selain eksploitasi air tanah juga bisa disebabkan akibat faktor geologi ataupun proses pembangunan yg pesat sehingga beban semakin berat.

Sementara masalah pengelolaan Air tanah ini sendiri merupakan kewenangan pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan tertuang di Perda Prov.Jabar no 1 tahun 2017 bahkan ada pasal yang sangat jelas mengatur tentang pengelolaan air tanah tepatnya di pasal 12 dan 13, lanjut Salman.

Apabila dianalisia secara sederhana sangat jelas kemungkinan terjadi nya penurunan permukaan tanah kota ini, selain eksploitasi air tanah yang berlebihan serta tidak seimbangnya usaha untuk mengganti ketersediaan air tanah, perubahan tata ruang dan kebijakan yang kurang berpihak pada lingkungan sangat begitu nampak.Kita lihat fakta bagaimana KBU yang permukaannya sebagian tertutup Bangunan dan hal itu masif terjadi.Selain itu betonisasi bahkan sampai saluran air serta pengaspalanpun menjadi bagian tanah ini kurang melakukan peran resapannya.Jadi ada ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran air di Cekungan Bandung.

Aktivitasbisnis dan industri yang membutuhkan air secara besar-besaran ikut berkontribusi bagi bertambahnya defisit air bawah tanah di Kota Bandung. Faktor lain adalah kemudahan dalam pemberian izin mendirikan bangunan besar dan luas yang justru malah menutup lahan resapan air.Salman mnyampaikan kembali, bahwa DLHK Kota Bandung berupaya secara rutin melakukan sosialisasi, edukasi konservasi air dan mengajak masyarakat berperilaku hemat air.Selanjutnya ada gerakan panen air dengan sistem biopori, sumur resapan dan drum pori.Semua ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mempertahankan keberlangsungan kehidupan.

Semogaterus dilakukan upaya perbaikan kearah pengembangan program pembangunan yang senantiasa memperhatikan keseimbangan Alam.

(Kang Amat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − fifteen =