Bandung, Prabunews.com – Bertepatan dengan perayaan Hari Disabilitas Internasional yang diadakan pada Rabu, 11 Desember 2019 di lingkungan Wyata Guna Kota Bandung, yang dikatakan akan turut serta menghadirkan Menteri Sosial RI Bpk. Juliari Batubara, Forum Akademisi Luar Biasa (FALB) bermaksud untuk menyampaikan kembali aspirasi sehubungan dengan kebijakan Kementerian Sosial yang mengakibatkan perubahan nomenklatur pada Wyata Guna dari yang sebelumnya sebuah Panti Sosial Bina Netra (PSBN) menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN).


Forum Akademisi Luar Biasa (FALB) akan menyampaikan aspirasinya melalui kegiatan aksi damai dan akan ditindak-lanjuti dengan permintaan Forum untuk melakukan audiensi langsung bersama Menteri Sosial RI. Adapun point-point aspirasi yang hendak diaudiensikan bersama Menteri Sosial RI di antaranya:

– Melakukan refisi atau bahkan mencabut Permensos no.18 tahun 2018
Permensos no. 18 tahun 2018 adalah cikal bakal dari terjadinya perubahan nomenklatur dari PSBN-PSBN di bawah naungan Kementerian Sosial RI menjadi BRSPDSN. Perubahan nomenklatur ini (BRSPDSN), pada penerapannya malah berdampak tidak lebih baik terhadap penyandang disabilitas terkait (penyandang disabilitas netra) dibandingkan dengan nomenklatur sebelumnya (PSBN).

Hal tersebut dikarenakan program-program yang digagas BRSPDSN cenderung malah mengurangi kuantitas dan kualitas pelayanan terhadap penyandang disabilitas yang dinaunginya. BRSPDSN Wyata guna misalnya. Pada nomenklatur sebelumnya (PSBN), Wyata Guna dapat menaungi hingga 250 penyandang disabilitas per tahun, memberikan pelatihan dasar (termasuk pelatihan kemandirian seperti belajar mengerjakan aktifitas sehari-hari) dan memberikan pelatihan kerja (termasuk pelatihan pijat masas, pijat refleksi, pijat siatsu, keterampilan bermusik, dll) yang apabila ditotal berdurasi hingga 3 tahun belajar, dan memberikan pelayanan asrama untuk penyandang disabilitas yang berusia sekolah dan kuliah. Kini, setelah mengalami perubahan nomenklatur menjadi BRSPDSN, Wyata Guna hanya menampung 60 penyandang disabilitas per semester, tidak melayani pelatihan dasar dan hanya melayani pelatihan kerja selama 1 semester per penyandang disabilitas, dan tidak lagi memberikan pelayanan asrama pada penyandang disabilitas berusia sekolah dan kuliah.

– Kementerian Sosial menghibahkan kewenangan pengelolaan Wyata Guna pada Pemprov Jawa Barat
Pengajuan permohonan penghibahan Wyata Guna dilakukan apabila Menteri Sosial menyatakan bahwa Kementerian tidak bisa mencabut Permensos no.18 tahun 2018 karena alasan apapun. Selain itu, sebelumnya Forum Akademisi Luar Biasa (FALB( juga telah bertemu dan mengajukan permohonan yang sama pada Pemprov Jabar. Saat itu Pemprov Jabar menyatakan kesanggupannya apabila Kementerian Sosial menghibahkan kewenangan pengelolaan Wyata Guna pada Pemprov. Ketika nanti Wyata Guna telah berganti menjadi dinaungi oleh Pemprov, diharapkan nomenklatur Wyata Guna dapat kembali menjadi PSBN, sehingga dapat menjalankan program-program PSBN sebelumnya yang tak ada dalam program BRSPDSN saat ini.

Diharapkan kegiatan aksi damai ini mendapat sambutan baik dari Menteri Sosial RI Bpk. Juliari Batubara, dan aspirasi para penyandang disabilitas melalui Forum Akademisi Luar Biasa (FALB) dapat ditindak-lanjuti secara serius sehingga segera menghasilkan keputusan yang tidak mencederai hak penyanddang disabilitas sebagaimana yang telah termaktub pada UU no. 8 tahun 2018 mengenai Penyandang Disabilitas.

Hormat Kami
Forum Akademisi Luar Biasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 13 =