Pangandaran, Prabunews.com – Aksi seni ruat tolak pembangunan waterboom di Pondok Seni Pangandaran tahun 2020,akan dilakukan ratusan seniman Jawa Barat dikawasan gedung YPK (PPK) jalan Naripan Kota Bandung,jumat (13/12/2019) mulai pukul 13.00 WIB. Para seniman yang terlibat dalam aksi seni ruat tersebut, antara lain dari Paguyuban Seni Seni Rakyat Indonesia (MASRI) , seniman  BAJIDORIS, Gema Nusa Patriot (GNP) Kota Bekasi, Dapur Pangbarep, Santika Studio, Mekar Budaya, Padepokan Kalang Kamuning, Ranah Seni Bandung dan komunitas seni lainnya.

Salah seorang seniman Jawa Barat yang juga penggagas aksi ruat tolak Waterboom Pondok Seni Pangandaran 2020, Mas Nanu Munajar menyampaikan pengantar rencana aksi tersebut akan digelar besok. Arti dan maksud ruatan ialah meruwat, menyelamatkan orang dari gangguan tertentu. Upacara ruwatan sebagai ungkapan hasil penghayatan hidup bermasyarakat bersama lingkungan alamnya,yang dialami para leluhur serta terkaji dari masa ke masa itu, merupakan sarana pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang hakiki sebagai bekal hidup untuk mencapai ketenteraman, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagian lahir dan batin. Maksud dan tujuan Aksi Ruat Tolak Waterboom di Pondok Seni Pangandaran bukan menolak program pembangunan yang dilakukan pemerintah Provinsi Jawa Barat, namun Ruwatan ini untuk mengingatkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahwa konsep pembangunan itu harus berpihak untuk kepentingan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat lahir dan batin.

Aksi Seni merupakan bentuk keprihatinan seniman terhadap kesewenangan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang akan mengalih fungsikan ruang ekspresi seni menjadi wisata air, yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan Undang-Undang Nomor 5/tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, justru cenderung mematikan Kreativitas seniman dengan keseniannya, seperti halnya Ronggeng Amen.

“Oleh karena itulah seniman yang tergabung dalam Paguyuban Seni Ronggeng (PASER) bersama seniman Jawa Barat bergabung melakukan aksi seni lewat ruwatan kolaborasi doa, gerak, dan bunyi. Inti Ruwatan ini, adalah menolak Pondok Seni Pangandaran dijadikan Waterboom”, tegas Bah Nanu Muda.

Bah Nanu menjelaskan, bahwa Pondok Seni Pangandaran yang dikelola UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat adalah sebagai sarana pertunjukan kesenian tradisi dan pengembangan kreasi seni Jawa Barat,yang diperuntukan untuk kalangan seniman daerah Kabupaten Pangandaran, Kota Banjar, Ciamis maupun dari berbagai daerah kota/Kabupaten  lainnya di Jawa Barat. Pondok Seni Pangandaran bagi seniman Ronggeng Amen maupun seniman kesenian lainnya, sangat membantu dalam mengenalkan atau mempromosikan kesenian  kepada masyarakat daerah Kabupaten Pangandaran khususnya,umumnya masyarakat Jawa Barat yang datang berkunjung kekawasan pantai pangandaran. Keberadaan Pondok Seni dampaknya sangat terasa oleh para pelaku seni. Mereka sangat merasakan bahwa Pondok Seni, bukan hanya untuk ajang pergelaran saja, namun membuka cakrawala mereka berkaitan dengan peningkatan kualitas garapan, terjalinnya silahturahmi dengan seniman lainnya, serta secara ekonomi menambah penghasilan group-group kesenian tradisi, memberikan apresiasi pada masyarakat atau pengunjung yang berwisata dan hadir di arena Pondok Seni.

Adanya pertunjukan Ronggeng Amen maupun jenis kesenian tradisi lainnya, setiap hari jumat sampai minggu secara rutin digelar di Pondok Seni, berdampak munculnya komunitas-komunitas,seperti komunitas penggemar Ronggeng di kalangan generasi muda dan hal ini sangat membanggakan bagi seniman Ronggeng.

“Mereka senantiasa hadir dengan sangat antusias sambil terlibat menari bersama dengan ronggeng sekaligus menyawer. Ini artinya, di kalangan anak muda telah tumbuh rasa kecintaannya pada kesenian Ronggeng”,ungkap Bah Nanu.

Maka tidak heran adanya komunitas-komunitas ronggeng senantiasa hadir pada setiap pertunjukan Ronggeng Amen pada tiap malam Minggu. Beberapa di antara komunitas pemuda penggemar Ronggeng Amen yang tergabung , yaitu Komunitas BRS, BAPER, SASIS, PAKIS, yang ternyata para penggemar ronggeng itu hampir 80% anggotanya adalah para nonoman atau pemuda.

“Yang menarik para penggemar ronggeng itu, anggota komunitasnya adalah gabungan dari beberapa desa atau kampung yang berbeda. Ini menunjukan bahwa Ronggeng Amen telah mendapatkan tempat di kalangan generasi muda yang notabene mereka dianggap sangat awam mengenal kesenian tradisi, justru kehadiran mereka di pakalangan Pondok Seni turut terlibat menari bersama ronggeng sekaligus menyawer, adalah bentuk kepedulian dan apresiasi pada kesenian ronggeng,sekaligus turut juga menjaga kelestarian kesenian tradisi umumnya dan khususnya Ronggeng Amen”. jelas Nanu Muda.

Kehadiran kesenian Ronggeng Amen di arena Pondok Seni bukan hanya sekadar menghibur sebagai tontonan saja, tetapi juga memberikan tuntutan kepada para penggemar atau masyarakat pencinta seni ronggeng. Dengan kata lain, kesenian seperti Ronggeng Amen sekait dengan pendidikan rasa, yaitu berkaitan dengan etis, filosofis, dan nilai budaya. Dalam arti, lewat sajian ronggeng itu akan tercipta pembentukan karakter budaya lokal pada generasi muda. Dengan demikian, kehadiran komunitas ronggeng itu pada dasarnya telah memberikan konstribusi,yang sangat besar bagi pelestarian dan pengembangan Ronggeng Amen.

(Mz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − three =