Karawang, Prabunews.com – Dipicu oleh kesadaran betapa jauhnya kualitas pendidikan anak di karawang jawa barat Chomsyah (45) tergerak aktif meningkatkan kemampuan anak usia dini. Kisahnya berawal pada 2015. (18/01/20)

Berawal dari kader kader posyandu,Chomsyah menjadi benih tumbuhnya gerakan perubahan di bidang pendidikan anak usia dini.lalu chomsyah mencari sebidang rumah disebuah perumahan Bumi indah pesona,dicikampek jawa Barar untuk membangun sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memberi nama ‘Teratai IX”

“Nama ‘Teratai’ini bukan singkatan. Kami hanya mengambil filosofinya. Harapan yang kami sematkan, semoga Teratai–Teratai kecil nanti bisa tumbuh besar menjadi harum dan wangi bagu dirinya,keluarganya masyarakat nusa dan bangsa” tutur Elisa Kasali melalui keterangan yang diterima Prabunew, Sabtu (18/01/2020).

“Untuk menjadi Teratai sekolah harus inspiring (menginspirasi), seperti prinsip bermain. Jangan biarkan guru menghapus suasana bermain di sekolah. Dengan bermain, anak bisa membentuk disiplin, kemampuan anak tetap fokus, melatih imajinasi serta menghidupkan kemampuan motorik kasar dan halusnya.”tutur chomsyah.

Rumah Baca, PAUD Teratai IX bukanlah kegiatan komersial, melainkan gerakan sosial dari Yayasan Rumah Perubahan yang dibangun Chimsyah. Sebagian besar siswa-siswi adalah anak-anak yang tinggal di tengah-tengah perumahan padat penduduk di kawasan cikampek,karawang jawa barat.

Awalnya, Chomsyah berpikir, tidak begitu sulit menjalankan PAUD.Toh, sebagian pernah menjalaninya saat waktu kecil.
Berjalanya waktu saat ini sudah hampir 24 anak didik dan tiga guru yang mengajar.

Maka, pada tahap awal, proses belajar mengajar dilakukan layaknya rata-rata sekolah biasa: Guru mengajari murid berhitung, mengeja, menggambar, membacakan cerita, dan seterusnya.

Tetapi setelah beberapa waktu berjalan, Chomsyah menyadari, ada sesuatu yang kurang tepat. Tatanan ekonomi dan bisnis berubah dengan cepat, masa depan yang akan dihadapi anak-anak juga akan jauh lebih menantang.

Lantas mengapa sistem pendidikan anak masih konvensional yang dijalankan beberapa puluh tahun silam? Eksplorasi dan riset pun dilakukan. Buku-buku tentang pendidikan, tahap perkembangan anak (otak atau neuroscience), hingga alat-alat permainan edukasi diresapi dan didalami.

“Makin kami pelajari, makin kami sadar, ilmu mendidik anak itu seluas samudera,” jelas wanita yang juga aktif dibeberapa job disk dan organisasi dikarawang.

(JRY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + 2 =