Bandung, Prabunews.com – Berita duka kerusakan ekosistem lingkungan kembali terdengar. Kebocoran pipa Pertamina yang selanjutnya mencemari sungai Cinambo berujung kepada bencana ekologi berupa terpaparnya aliran sungai, sawah-sawah warga dan meracuni sekaligus membuat banyak burung blekok yang berhabitat di daerah sekitar kejadian (Kampung Ranca Bayawak) mati karena mengkonsumsi ikan-ikan yang tercemari.

Depo TBBM yang berlokasi di Jl. Soekarno-Hatta No.728, Babakan Penghulu Cinambo melakukan penanganan terkait bocornya BBM jenis Solar milik Pertamina.

Di lokasi rembesan aliran Sungai Cinambo petugas melakukan penanganan kebocoran dengan cara sebagian aliran sungai Cinambo dibendung dan di semprotkan cairan kimia, Oil Spill Dispersant (OSD) 9000 Supergreen Eco yang bertujuan agar menetralisir serta melarutkan solar yang mencemari sungai.

’’Rembesan solar yang mengalir akan dilarutkan oleh cairan dispersant dengan cara kita semprot dan kita bendung, karena cairan ini akan melarutkan bbm, juga kita vacum agar solar yang rembes bisa cepat habis dan tidak lagi keluar mengalir ke sungai,’’tutur Kosasih salah seorang petugas Health Safety Security Environment (HSSE) Pertamina.


Baca juga : Supaya Efektif PSBB Bodebek Masyarakat Diminta Taati Aturan


Sementara Ujang Safaat salah satu pegiat sekaligus pelestari wilayah habitat Blekok mengatakan bahwa kejadian ini merupakan bagian dari kelalaian yang serius.

Kebocoran pipa Pertamina jangan dianggap sepele, kebocoran pipa itu jelas kelalaian yang ada di pertamina yang mengakibatkan dampak terhadap lingkungan dimana air dan tanah terkontaminasi minyak solar yang mengalir ke sungai dan sawah.

Selaku pokmas kelompok masyarakat peduli lingkungan sosial budaya dirinya sangat kecewa dengan penanganan kebocoran pipa Pertamina ini terkesan menutup – nutupi kejadian ini.

Dikawasan aliran sungai yang terkena minyak solar itu mengakibatkan habitat yang dilindungi burung kuntul (blekok) terkena dampak belasan anak burung dan induk mati akibat memakan ikan yang tercemar minyak solar.

Untuk itu kami selaku pemerhati penjaga ekosistem akan tetap berupaya untuk mengangkat permasalahan ini karena pihak Pertamina lalai dalam hal perawatan hingga mengakibatkan kebocoran.

Kami sudah melayangkan surat ke Kementrian BUMN dan Kementrian LHK terkait pencemaran lingkungan karena ini dampaknya akan lama karena endapan minyak bercampur tanah. Untuk itu kami mengajak para penggiat lingkungan dan peduli habitat untuk bergerak meminta pertanggungjawaban pada Pertamina.

Dan pihaknya meminta agar kejadian ini menjadi bagian instrofeksi diri tentang kekurangtelitian pengawasan dan pemeriksaan secara intensif terhadap pipa-pipa milik Pertamina tersebut.

(Kang Amat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − three =