Bandung, Prabunews.com – Masih ingat dongeng Lutung Kasarung ? Kisah Lutung Kasarung tidak hanya hadir dalam dongeng anak saja tetapi juga dalam bentuk seni pantun yang mana kehadirannya jauh lebih purba. Pantun Lutung Kasarung ini mengisahkan tentang putri Purba Sari yang merupakan simbol Dunia Atas dan Lutung Kasarung yang merupakan perlambang dunia tengah atau panca tengah.

Ajip Rosidi, dalam bukunya ngalanglang Kasustran Sunda (1983) mengemukakan pendapat mengenai pantun Lutung Kasarung ini sebagai berikut :

Carita Lutung Kasarung teh mungguhing di antara carita pantun mah pangkaramatna. Hente saban juru pantun wanieun mantunkeun lalakon Lutung Kasarung mah. Kuring sorangan tacan kungsi manggihan juru pantun anu wanieun ngalakonkeun. Basana teu wasa, cenah da kudu gede pameulina.


Baca juga : David Riksa Buana #1 ” Membangun Penghubung Wilayah Dengan Energi Swadaya Masyarakat “


Kiranya, pantun Lutung Kasarung sejajar kekeramatannya dengan pantun Mundinglaya Di Kusumah. Mengapa demikian ? kedua pantun tersebut menceritakan pembentukan mandala vertikal dalam tokoh utamanya Purba Sari Ayu Wangi dan Mundinglaya. Proses menjadi “Orang Suci” atau “Manusia Sempurna” yang menyatu dengan Dunia Atas merupakan alur ceritanya.

Pantun Lutung Kasarung dibuka dengan sebuah rajah yang hanya terdiri dari dua halaman saja, mirip pantun di sunda bagian barat. Dalam pantun Priangan biasanya rajah memakan puluhan halaman. Meskipun rajah tidak panjang, namun terdapat sebuah frase yang akan diulang-ulang di seluruh pantun. Frase rajah itu berbunyi demikian :

Ngaran tilu sakawolu
Ngaran dua sakarupa
Sahiji keunana pasti

Ungkapan tersebut sama hal nya dalam wilayah lain yang kemudian kita kenal dengan istilah Tritangtu.
Maka sesungguhnya Pantun Lutung Kasarung berisi ajaran etika petani sunda.

Manusia itu tak bisa dilepaskan dari unsur-unsur dasar, yakni tanah , air , api , angina. Para petani ini membutuhkan tanah pertanian , membutuhkan air untuk menyuburkan tanaman , membutuhkan angin untuk mengeringkan dan butuh api untuk memasak makanan.

Pantun ini harus dikembalikan kepada budaya masyarakat sunda yang masih hidup dari pertanian , entah ladang maupun sawah.

Lutung Kasarung adalah exis mundi yang dikirimkan Sunan Ambu kepada manusia di Pasir Batang Anu Girang. Melalui exis mundi inilah ajaran-ajaran etik Dunia Atas diturunkan kepada masyarakat petani sunda.

(SF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one + eighteen =