Kembali ke Fitrah dengan Lebaran Virtual

Syabar Suwardiman, M.Kom

Kepala Bidang Akademik Yayassan Bina Bangsa Sejahtera Bogor

 

Tahun ini untuk pertama kalinya lebaran di Indonesia tanpa mudik.  Pemerintah telah melarang masyarakat untuk melakukan mudik. Hal ini dilakukan untuk menekan penyebaran virus corona. Pandemi Covid 19 menjadi penyebab utama. Larangan untuk tidak mudik yang sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia tentunya menimbulkan berbagai dampak yang sangat luar biasa. Tidak heran jika sebagian masyarakat masih tetap memaksa untuk mudik. Selain juga karena alasan ekonomi yang tidak menentu bagi sebagian perantau di kota besar.

Bagi masyarakat Jawa jauh sebelum masuknya Islam sudah terbiasa melakukan mudik. Mudik dilakukan untuk membersihkan makam para leluhur mereka sekaligus meminta doa keselamatan dalam mencari rejeki di perantauan. Kaitan mudik dengan lebaran menjadi satu kesatuan, karena pada umumnya merasa sesudah bekerja keras selama setahun, kemudian diawali puasa dan pastinya disertai libur panjang, sehingga berkesempatan untuk melakukan mudik bersama seluruh keluarga. Tradisi jawa juga mengenal lebaran ketupat, seminggu sesudah hari lebaran. Lebaran ketupat sekaligus sebagai penutup puasa syawal bagi yang melaksanakan enam hari berturut-turut sejak hari kedua lebaran.  Di beberapa daerah Jawa perayaannya cukup meriah dan ditunggu masyarakat untuk ikut merayakannya.

Sejak kapan mudik lebaran terjadi seperti sekarang?  Secara fenomenal mudik terjadi  sejak tahun 1970an ketika terjadi perkembangan Kota Jakarta sebagai kota metropolitan. Dalam catatan sejarah sejak tahun 60an sudah mulai tradisi mudik, tetapi tidak sefenemonal setelah tahun 70an. Tahun 60an pemerintah saat itu menyarankan untuk tidak melakukan mudik karena sangat melelahkan dan menegangkan. Apalagi saat itu moda angkutan mudik andalannya adalah kereta api, kalau kereta api mogok pemudik akan naik kereta berikutnya yang keadaannya sudah sangat berjubel. Djawatan Kereta Api pun hanya melayani pemudik sampai stasiun Jogya, Solo dan Semarang. Tahun 1962 pemerintah mengkampanyekan agar masyarakat tidak mudik, karena sedang fokus dalam upaya pembebasan Irian Barat. Kampanye ini didukung penuh Djawatan Kereta Api (sekarang PT KAI), karena ketika itu kemampuan untuk mengangkut pemudik sangat terbatas.

Mengapa mudik menjadi ritual wajib?

Mudiknya lebaran di mana-mana, pulang ke kampung amatlah bermakna, meskipun jauh ditempuh juga, jangan paksakan diri. Itulah penggalan lirik lagu Bimbo, Taqabbalallaahu Minna Waminkum. Secara kejiwaan setiap orang mempunyai keterikatan dengan daerah asalnya, mereka mudik untuk mengingatkan jati dirinya sekaligus berkumpul dengan seluruh keluarga. Ikatan primordial ini sangat kuat di kalangan masyarakat Indonesia.   Dalam tradisi Sunda misalnya sering dikaitkan dengan ungkapan tong pareumeun obor, yaitu sebuah ungkapan agar generasi muda mengenal para kerabatnya, terutama kepada jalur keluarga inti. Momen lebaranlah yang pas karena mereka berkumpul di rumah orang tuanya, dan pada akhirnya kenal dan dikenalkan pada seluruh kerabatnya. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa mudik menjadi penting dilakukan, meskipun perjalanannya sangat melelahkan:

  1. Kebahagiaan karena berhasil di perantauan, kesuksesan itu dibagikan kepada kerabatnya. Bahkan terkadang kemudian mengajak kerabatnya untuk mengadu nasib di kota besar.
  2. Semacam pemulihan jiwa, recharge, penguatan kembali sebelum berjuang kembali dengan kerasnya kehidupan di kota besar. Baik bagi yang sudah berhasil di perantauan maupun yang belum. Restu orang tua menjadi kunci penting ketika mereka akan merantau kembali.
  3. Rindu kumpul dengan seluruh keluarga. Orang Sunda mengatakan buruk-buruk papan jati, hade goreng oge dulur. Selalu ada penerimaan kembali, meskipun pernah mencoreng nama baik keluarga. Selalu ada ruang untuk memaafkan bagi kerabat dan sahabat.  Momen lebaran pas dengan filosofis itu, karena sedang lebarnya ruang saling memaafkan.  Alasan-alasan ini menguatkan sisi rohaniah para pemudik.

Selain beberapa alasan yang telah disebutkan, mudik sendiri membawa berkah ekonomi karena terjadi penyebaran uang yang dibawa pemudik ke kampung halamannya masing-masing.  Bank Indonesia mencatat pada lebaran tahun 2019 kebutuhan uang tunai selama ramadan dan lebaran mencapai 217,1 triliun, naik 13.5% dari tahun 2018. Sementara uang yang dibawa pemudik dari Jakarta saja mencapai 9.7 triliun, belum dari para TKI yang mengirimkan uangnya ke kampung halaman. Angka itu hanya perkiraan berdasarkan catatan jumlah pemudik yang dilakukan pihak Kadin DKI Jakarta.  Artinya kehidupan ekonomi masyarakat berputar dan terjadi pertumbuhan ekonomi masyarakat.  Secara konsumtif masyarakat akan berkunjung ke tempat wisata, membeli oleh-oleh khas daerah, menjajaki kuliner daerah dan membagikan uang kepada kerabat dekatnya.

Lebaran Virtual

Sejak awal pandemi para sosiolog sudah menyarankan tahun ini kita melakukan lebaran secara virtual saja.  Secara mudahnya lebaran virtual adalah lebaran dengan menggunakan media internet, tidak harus kontak fisik. Pelukan dan jabat tangan pun cukup dari jauh menggunakan media video call atau sejenisnya.  Bisa juga kita minta foto orang tua kita, lalu kita edit seolah-olah kita sedang memeluknya, kirim lewat media whatsapp. Istilah virtual hug (pelukan virtual) dan virtual shake hands (salaman virtual) akan lebih populer.  Mungkin sungkem virtual  juga akan menjadi popular.

Tetapi apakah akan mampu mengganti kekuatan-kekuatan rohaniah seperti pada mudik yang sesungguhnya?  Jawabannya tidak.  Tidak mungkin opor, sambal goreng ati dan sambal buatan Ibu di kampung halaman dapat digantikan dengan masakan apapun.  Belum makanan khas lainnya, kunjungan ke tiap rumah dan wajib mencicipi makanan.  Tetapi kenikmatan utamanya adalah silaturahmi, berkumpul bersama, saling menguatkan antarsaudara. Inilah yang tidak tergantikan, kenikmatan batiniah.

Terlepas dari semua itu, kuncinya untuk lebaran kali ini adalah sabar dan bersyukur.  Sabar memandang pandemi corona ini sebagai ujian dari Allah, bersyukur karena masih bisa berkomunikasi meskipun melalui media virtual.  Pemulihan jiwa untuk kembali fitri ada di tangan kita.  Bahkan ini hikmah sehingga kita semakin merasa bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita kembali ketitik nol. Tugas kita saling mendoakan.  Bukankah mendoakan orang lain tanpa diketahui yang bersangkutan merupakan doa mustajab?  Doa itu kemudian memantul balik ke diri kita dengan nilai kebaikan yang sama.

Lebaran virtual memang tidak akan mampu menggantikan lebaran langsung.  Dalam lebaran langsung kita tidak sekedar mudik fisik, tetapi juga batin kita.  Mudik yang biasa kita lakukan, yang biasanya menjadi pemantik untuk menguatkan kembali diri kita,  saat ini untuk sementara kita tunda.  Kondisi ini kurang lebih seperti  kita sedang diberi motivasi oleh motivator, motivator hanya menyalakan kembali api semangat.  Padahal motivator sesungguhnya adalah diri kita karena harus terus menjaga supaya api itu tidak padam. Mudik kali ini kita tunda, tetapi penguatan jiwanya harus tetap jaga. Terutama semangat untuk kembali ke fitrah kita sebagai manusia.

Mudah-mudahan wabah ini segera berlalu, dan selamat mencoba sungkem virtual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × one =