Kab. Garut, Prabunews.com – Bencana Banjir Bandang yang terjadi di wilayah Garut Selatan beberapa hari yang lalu menyisakan berbagai pekerjaan rumah bagi semua pihak.

Pengelolaan tata ruang serta pengawasan dan penegakan sangsi yang tegas bagi para pemerkosa alam menjadi hal utama, karena banjir bandang yang mengakibatkan meluapnya beberapa sungai di wilayah tersebut disinyalir sebagai indikasi adanya permasalahan serius di hulu.

Salah satu wilayah yang terdampak bencana tersebut adalah Desa Sagara Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut.

Dhika Dharmawan, Relawan Tentara Langit

Dikha Dharmawan Setiadi, salah seorang Relawan Tentara Langit yang berada dilokasi (13/10) mengatakan bahwa yang dibutuhkan di lokasi bencana saat ini adalah perbaikan jaringan penerangan listrik yang mati total , APD tidur , APD masak serta bahan makanan.

Beberapa wilayah terdampak banjir bandang sudah dibersihkan oleh masyarakat dan relawan dari lumpur yang terbawa arus.

Sementara bantuan dan tindakan yang dilakukan oleh unsur kewilayahan baik setingkat desa, kecamatan, kabupaten bahkan provinsi dinilainya masih sangat lamban, Sudah mau dua hari assement belum begitu nampak, logistik bahan pokok bagi masyarakat masih minim, ungkap Dika.

Berdasarkan data jumlah korban manusia di Desa Segara sebanyak 981 dengan luka ringan 16 orang, rumah tergenang sebanyak 108, 5 titik sawah yang rusak dan korban material sebanyak 114 KK dengan jumlah kerugian berkisar 1,5 juta-12 juta.

Menyaksikan bencana demi bencana yang hadir di Jawa Barat penulis meminjam pernyataan dari Dir. Eksekutif Pelija, Ir.H.M.Q.Iswara, AIFO tentang pentingnya audit lingkungan menyeluruh di wilayah-wilayah yang disinyalir adanya perubahan tata ruang karena setiap perubahan melekat dengan adanya resiko.

(Kang Amat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 − five =