Bandung | Prabunews.com – Judi online tak lagi bersembunyi di ruang privat. Ia kini hadir terang-terangan di balik lapak pedagang kecil, mengisi waktu sepi pembeli dengan janji keuntungan instan. Dari sekadar iseng hingga penyesalan, investigasi lapangan ini memperlihatkan bagaimana judol perlahan menggerogoti ekonomi rakyat kecil, sementara negara ditantang untuk hadir lebih nyata melindungi warganya.
Saya menyaksikannya sendiri dalam sebuah perjalanan beberapa kali menjumpai hal ini. Saat membeli makanan dari salah satu pedagang, suasana tampak biasa. Dagangan sepi, waktu terasa panjang. Namun tanpa diminta, pedagang itu membuka percakapan sambil memperlihatkan ponselnya.
“Saya iseng teteh..kalau jualan sepi. Main judol mah nggak bikin ketagihan, cuma di sela-sela waktu kosong saja,” ujarnya santai.
“Modal seratus ribu, sudah jadi satu koma dua juta,” katanya lagi sambil menunjukkan layar ponsel.
Ia tersenyum, “Lumayan, buat beli HP baru.”
Narasi seperti ini kini terdengar biasa. Judi online dibungkus sebagai hiburan, pengisi waktu, bahkan dianggap strategi bertahan hidup. Namun realitas di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.
Beberapa menit berselang, ekspresi pedagang itu berubah. Tangannya kembali menatap layar.
“Turun lagi jadi sembilan ratus ribu, harusnya tadi di WD, ini malah turun lagi”katanya.Ia menambahkan dengan nada menyesal.
Dalam hitungan menit, euforia berubah menjadi penyesalan. Klaim “tidak ketagihan” runtuh oleh fakta. Inilah wajah asli judi online, memberi harapan semu, lalu mengikisnya perlahan, tepat saat korbannya mulai percaya.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Judol telah menjelma menjadi wabah sosial yang menyerang kelompok paling rentan, pedagang kecil, buruh harian, pekerja informal, mereka yang hidup dari penghasilan tidak menentu dan mudah tergoda oleh janji instan.
Lebih berbahaya lagi, judi online sering tidak datang dengan paksaan, melainkan dengan bisikan halus, iseng saja, modal kecil, sekali ini saja. Namun dari situlah kehancuran dimulai.

Lalu di mana Negara berperan?
Pemblokiran ribuan situs judol belum cukup menjawab persoalan di akar rumput. Selama akses tetap mudah, promosi masih lolos, dan literasi digital rendah, rakyat kecil akan terus menjadi sasaran empuk. Negara tidak boleh hanya hadir sebagai pemutus sinyal, tetapi harus tampil sebagai pelindung warganya.
Pemerintah dituntut untuk bergerak lebih serius, memperkuat edukasi publik, membongkar jaringan ekonomi judol, serta menghadirkan solusi nyata bagi rakyat kecil yang sedang berjuang bertahan hidup.
Pesan dari lapak kecil itu seharusnya menggema ke ruang-ruang kekuasaan,
Judi online bukan hiburan, bukan solusi, dan bukan jalan keluar. Ia adalah perangkap modern yang menguras penghasilan rakyat secara perlahan, tanpa suara, tanpa ampun.
Jika negara tidak tegas, maka jangan heran bila suatu hari nanti yang runtuh bukan hanya lapak-lapak kecil, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap perlindungan yang seharusnya mereka dapatkan.
Lewati ke konten





