Peran Sekolah Dan Orang Tua Atasi Masalah Ansietas Dan Depresi Pelajar

Oleh : Rahmat Suprihat, S.Pd - Aktivis Pendidikan Kota Bandung - Dewan Redaksi Prabunews.com

Bandung | Prabunews.com – Munculnya release media yang menginformasikan tentang data yang menyatakan bahwa hampir 50% atau seperuh pelajar Kota Bandung terindikasi alami ansietas dan depresi tentunya menjadikan kekhawatiran bagi seluruh pihak yang terkait erat dengan keberadaan pelajar sebagai anak dan peserta didik di institusi pendidikan.

Informasi ini memang pantas mendapatkan perhatian serius mengingat bahwa kondisi psikologis peserta didik atau anak menjadi bagian penting dalam pembangunan generasi yang sekaligus sebagai aset keluarga dan bangsa.

50% pelajar Kota Bandung terindikasi alami Ansietas dan Depresi

Data kondisi psikologis pelajar ini merujuk pada data hasil skrining CKG DJ sekolah.

Hasil skrining ini menunjukan dari total 148.239 peserta didik yang mengikuti pemeriksaan hasilnya sebanyak 71.433 siswa atau setara 48,19% terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa. Temuan ini paling menonjol terjadi pada jenjang SMP atau MTs sederajat, dengan 49,09% siswa menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental.

Secara umum bahwa belajar jenjang SMP atau MTs sederajat tercatat memiliki masalah kesehatan jiwa.

Selain itu sebagian pelajar Kota Bandung mengalami gejala ansietas ringan, terindikasi ansietas berat, gejala depresi ringan sampai terindikasi memiliki masalah depresi berat.

Keberadaan kondisi psikologis pelajar ini menjadi begitu mengkhawatirkan mengingat gempuran keberadaan teknologi terutama dengan kehadiran gawai telah mendorong anak-anak (pelajar) semakin menjadi pribadi yang individualis.

Bahayanya Ansietas dan Depresi

Ansietas merupakan masalah kejiwaan meliputi hadirnya perasaan tidak nyaman, kekhawatiran, atau ketakutan yang berlebihan dan tidak jelas sumbernya. Ini adalah respons alami tubuh terhadap stres atau bahaya, tapi jika berlebihan atau berkepanjangan, dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gejala ansietas bisa meliputi Perasaan gelisah atau tidak tenang, takut atau khawatir berlebihan, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur dan tegang otot

Sedangkan Depresi sebagai sebuah gangguan mental yang ditandai dengan perasaan sedih, kehilangan minat, dan gangguan fungsi sehari-hari.

Kedua masalah kesehatan mental ini dengan sangat jelas akan mengganggu perkembangan pelajar (anak-anak) terutama dalam meningkatkan prestasi akademik maupun non akademis.

Hadirnya layanan kesehatan mental dari pihak Profesional

Gangguan psikologis pelajar ini perlu penanganan serius dari pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya terutama para psikolog atau psikiater.

Dengan adanya andil dari kedua profesional ini diharapkan para pelajar dapat secara bertahap menurunkan tingkat beban kejiwaan yang dirasakannya.

Meningkatkan pelayanan kesehatan mental oleh satuan pendidikan

Selain itu pihak sekolah atau institusi pendidikan harus meningkatkan peran pendampingan dalam pelayanan dengan terus mengupayakan kehadiran program edukasi yang terkait erat dengan kesehatan mental.

Para tenaga pendidik dapat melakukan elaborasi dengan bantuan guru bimbingan konseling yang ada di sekolah atau melalui In House Training (IHT) yang menghadirkan pakar di bidang kesehatan mental anak.

Peran strategis keluarga (orang tua)

Komponen terpenting lainnya yang dapat dimaksimalkan dan menjadi garda paling depan untuk meminimalisir terjadinya Masalah kesehatan mental anak adalah terbangunnya iklim keluarga yang harmonis, saling melindungi dan memberikan rasa aman dan nyaman.

Kehadiran iklim keluarga bermuara dari kehadiran kedua orang tua yang memiliki jiwa penuh kehangatan serta fokus dalam memperhatikan perkembangan jiwa anak.

Beberapa hal yang dapat dibangun didalam ekosistem keluarga diantaranya :

  •  Perhatian lebih terhadap perkembangan anak didalam aktivitas sehari-hari.
  •  Menjadi orang tua sekaligus sebagai sahabat yang setia mendengarkan sebanyak apapun keluhan dan ide/harapan yang hadir pada diri anak
  •  Menghadirkan ruang kebersamaan yang penuh kehangatan pada setiap moment.
  •  Terbangunnya komitmen bersama tentang aturan keluarga yang disepakati bersama.
  •  Membiasakan untuk mendiskusikan setiap masalah sampah menemukan solusi tanpa harus saling menyalahkan.

Kerjasama orang tua dan sekolah

Selain itu orang tua dan satuan pendidikan harus membangun komunikasi yang baik dan pro aktif sebagai jembatan untuk bergerak cepat dalam membentengi anaknya (pelajar) dari hadirnya masalah kesehatan mental.

Dengan komunikasi yang baik sekolah pun akan dengan mudah menemukan titik terbaik pelayanan pendidikan sesuai harapan masyarakat.

Rahmat Suprihat, S.Pd

Tinggalkan Balasan