Surabaya Masuk Zona Rendah Persebaran Covid-19

Surabaya, Prabunews.com – Pemkot terus memonitor persebaran virus korona jenis baru (Covid-19) di Kota Pahlawan. Pemetaan itu dilakukan berkala setiap bulan. Hasilnya, Surabaya sudah membaik dan pandemi Covid-19 berhasil diredam.

Pemetaan tersebut dilakukan dengan metode ilmiah lewat monitoring self-assessment indeks kepuasan masyarakat (IKM). Untuk menilai IKM, ada 14 indikator. Tiga indikator di antaranya adalah penurunan jumlah kasus positif dari posisi puncak selama dua minggu terakhir, penurunan jumlah pasien meninggal dari posisi puncak dua minggu terakhir, serta angka kematian (mortality rate) per 100 ribu penduduk.

Untuk lebih memberikan kepastian, pemkot menambah telaah lain. Yaitu, rate of transmission (RT). Melihat persebaran virus yang kali pertama muncul di Tiongkok tersebut. Hasilnya, Surabaya sudah membaik. Lepas dari zona berbahaya persebaran virus korona. Nilai IKM yang diperoleh mencapai 2,43.

Kepala Bagian Humas Febriadhitya Prajatara mengungkapkan, pemantauan IKM dan RT itu berjalan selama sepekan. Sejak 19 Oktober hingga 25 Oktober. ”Hasilnya membuktikan bahwa Surabaya merupakan wilayah rendah persebaran Covid-19,” paparnya.

Penilaian IKM dan RT itu sudah dua kali dilakukan. Pertama, pada awal Oktober lalu, pemkot mendapatkan skor 2,58. Nah, dalam telaah pekan berikutnya, nilai berubah. Artinya, Surabaya berhasil menekan laju persebaran Covid-19.

Menurut Febri, sapaan akrab Febriadhitya, penanganan cepat menjadi kunci untuk meredam lonjakan kasus Covid-19. Pemkot terus menggeber testing, tracing, dan treatment. Cara itu dilakukan untuk memperoleh data pasti warga yang terpapar virus korona.

Misalnya, uji usap. Hingga kini, 208 ribu warga telah menjalani swab test. Pemeriksaan tersebut menyasar ibu hamil, guru, pekerja swasta, hingga pelanggar protokol kesehatan (prokes) yang tersebar di seluruh wilayah.

Ditambah lagi, petugas kecamatan aktif turun ke perkampungan untuk mengadakan uji usap secara door-to-door. Terutama di wilayah yang tingkat persebaran koronanya masih terbilang tinggi.

Febri mencontohkan, ketika ada warga di salah satu permukiman yang terpapar Covid-19, kawasan itu ditutup. Sejurus kemudian, seluruh warga di-swab test. Yang positif korona segera mendapatkan penanganan. ”Sehingga virus korona tidak menyebar,” jelasnya.

Peran Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo juga tidak bisa dianggap sepele. Setiap hari pemkot berkoordinasi untuk memantau persebaran Covid-19. Petugas di kampung tersebut merupakan garda terdepan penanganan korona. Ketika ada warga yang terinfeksi, tracing dilakukan. Langkah lain adalah penyemprotan disinfektan.

Meski kurva Covid-19 melandai, Febri meminta warga tetap disiplin dan mematuhi prokes. Yakni, menjaga jarak, memakai masker, dan rajin menjaga kebersihan. Pemkot tidak ingin kasus korona kembali melonjak. Pemkot berupaya menjaga tren positif tersebut. Sebab, ada sejumlah program yang sudah digagas pemkot. Di antaranya, membuka kembali sekolah dan memacu perekonomian. ”Kesejahteraan warga menjadi perhatian pemkot,” terangnya.

Langkah antisipasi agar kasus korona tidak kembali melonjak digagas satgas penanganan Covid-19. Yaitu, menyelenggarakan uji usap serempak di seluruh wilayah perbatasan Surabaya. Tujuannya, menangkal persebaran virus korona dari wilayah lain.

Ada 11 titik yang menjadi perhatian. Di antaranya, Ke_camatan Gunung Anyar, Pakal, Jambangan, Gayungan, Karang Pilang, Bulak, dan Kenjeran. Selanjutnya, Kecamatan Bulak, Lakarsantri, Wonocolo, dan Benowo.

Wakil Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Irvan Widyanto menjelaskan, kawasan perbatasan memang menjadi perhatian. Sebab, di tempat itu mobilitas warga cukup tinggi. ”Karena warga kerap bepergian ke kota tetangga,” ujarnya.

Saat bepergian, bukan tidak mungkin warga tertular virus korona. Penyakit mematikan itu menempel dan terbawa hingga ke rumah. Alhasil, keluarga terserang.

Irvan mengungkapkan, razia tersebut diadakan mulai hari ini. Sasarannya adalah pengendara yang tidak mematuhi prokes. Salah satunya, tidak memakai masker. ”Selain itu, warga yang berdomisili di wilayah perbatasan,”.

(whb)

Scroll to Top