Eyang Memet, sosok pegiat lingkungan Jawa Barat yang konsisten dalam upaya melestarikan alam.
Bandung, Prabunews.com – Nama Eyang Memet sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga para pegiat lingkungan. Dengan nama asli Memet Ahmad Surahman, pria yang lahir di Bandung 29 November 1953 ini mengaku sejak masa SMP tepatnya 16 tahun yang lalu terpincut menanam pohon.
Dari kegemaran menanam pohon inilah ternyata hasilnya bisa digunakan untuk biaya sekolah dan seluruh kegiatan di sekolah bisa saya ikuti, bahkan untuk biaya kuliah saya gunakan dari penjualan kelapa dan alpukat yang pohonnya ditanam olehnya” kata Eyang Memet
Kegemaran menanam memang ditanamkan dan ditularkan oleh kakek dan neneknya saat ia duduk di SMPN Cibatu Garut dan belajar di pondok Pesantren Keresek, Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Aktivitas menanam pohon dilakukan oleh Eyang Memet termasuk untuk memghijaukan Kawasan Bandung Utara tepatnya dari tahun 2003-2005 .Sementara gerakan menanam pohon di Kabupaten Bandung sudah dilakoninya sejak 2006.
Di Kota Bandung sendiri Eyang Memet sempat menjadi kordinator GP4LH ( Gerakan pembi bitan, pemeliharaan dan Pengawasan Lingkungan Hidup ), tepatnya saat zaman Walikota Dada Rosada dan dipercaya untuk menghijaukan kembali kawasan Tegallega dan Babakan Siliwangi termasuk di sepadan sungai Cikapundung.
“Dari mulai daerah Cidadap, Ciporeat sampai Punclut. Tugasnya, disamping memberikan contoh, semacam pendidikan lingkungan, juga memberikan spirit kepada anak-anak muda supaya mencintai lingkungan,” tutur Eyang Memet.
Sudah ada ratusan ribu pohon berbagai jenis yang ditanam di kawasan Kota Bandung maupun di Kabupaten Bandung.
Menurut dia, lahan penanaman pohon di kawasan Bandung Utara bukan milik warga setempat, melainkan warga luar Bandung. Sedangkan di Bandung Selatan kebanyakan tanah hutan rakyat.
Satu hal yang menarik seorang Eyang Memet merupakan sosok yang memiliki komitmen diantaranya menghadirkan gerakan setiap hari tanam 10 pohon.Hal ini dilakukannya semenjak 2006 hingga kini, malah jumlah pohon yang ditanampun sudah melebihi target.
“Kalau dulu satu hari 10 pohon, satu tahun hanya 3.600 pohon. Kalau sekarang sudah 10 tahun berarti sudah mencapai 36 ribu pohon, saat ini malah jumlahnya sudah ratusan ribu (pohon),” ucapnya.
Gerakan menanam pohon semestinya harus terus digelorakan dan salah satunya melalui upaya perubahan pola pikir sejak belajar di bangku SD, SMP dan SMA. “Anak muda zaman sekarang belum banyak yang gemar menanam pohon. Gerakan menanam harus dimasukkan ke dalam kurikulum dan ekstrakurikuler,” ucapnya.
Satu hal istimewa dari kegiayan yang dilakukan Eyang Memet salah satunya adalah beliau memiliki peranan berharga dalam melestarikan dan membudidayakan tanaman langka endemi Jawa Barat sebanyak 66 jenis dan hampir 60 jenis tanaman penyangga dari wilayah Indonesia.
Dari kegemaran yang konsistensi itulah telah mengantarkan Eyang Memet menerima beberapa penghargaan baik dari Pemerintah pusat/Nasional, Jawa Barat, Pemerintah Kab. Bandung dan beberapa perguruan tinggi.
Hadir di area pembibitan Eyang Memet yang rimbun dan sejuk yang berlokasi di wilayang Gambung Pasir Jambu membuat siapapun akan merasa betah dan enggan pergi.
(Kang Amat)