Cimahi Bali, Prabunews.com – Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) Jawa Barat meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kotamadya /Kabupaten di Jawa Barat agar segera memberikan vaksin pada siswa. Jika target ini dapat terealisasi maka pembelajaran di sekolah dengan tatap muka dapat digelar serentak pada awal tahun 2022. Di Jawa Barat , setidaknya 75 % siswa sudah di vaksin .
Seperti yang diterangkan Ketua FAGI Jabar Iwan Hermawan pada Prabunews.com Sabtu (10/07/2021), bahwa mayoritas daerah di Jawa Barat belum sepenuhnya menggelar PTM, bahkan banyak yang masih ujicoba dalam jumlah terbatas. Namun, anak-anak Indonesia yang terinfeksi COVID-19 angkanya mencapai 12,6% dari total kasus.
“Angka kematian anak akibat COVID di Indonesia tertinggi di dunia. Sebagian besar anak tertular dari klaster keluarga, ujar Iwan. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) data selama masa pandemi dari 8 anak 1 orang terpapar Covid 19, Kematian dari kasus Covid19 pada anak itu mencapai 3-5 %, setidaknya sudah ada 600 anak-anak meninggal dunia.
FAGI Jabar mohon pemerintah daerah menangguhkan PTM sebelum Pandemi Covid 19 betul-betul mereda , kurang sempurnanya mendapatkan ilmu bisa dituntut di kemudian hari, tapi kehilangan nyawa anak tak akan bisa tergantikan, FAGI tidak mau Indonesia kehilangan generasi masa depan yang cerdas hanya karena kecerobohan pemerintah melaksanakan PTM .
Jika memang PTM ditunda maka yang harus dilakukan sekolah melakukan evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara online pada tahun ajaran yang lalu. Untuk peningkatan PJJ ke depan : PJJ tidak harus selalu Daring karena memerlukan biaya kuota yang besar dan masih ada daerah Lose Internet Signal , Daring bisa Virtual (Zoom,GCR dll ) atau bisa Non Virtual (WA, telegram ,email, youtube, TV Streaming Radio dll) . Bagi siswa KETM yg kesulitan HP/ quota internet atau di daerah Lose Intertet Signal maka sekolah melakukan Pembelajaran Luring dengan perbanyak Modul SD/SMP/SMA/SMK terbuka yang sudah tersedia modul produk Disdik Kota /Kaupaten maupun Disdik Jabar tinggal diadopsi oleh sekolah.. Jangan sampai ada siswa tertinggal kelas gara-gara tidak bisa ikut daring karena tidak punya quota, tegas Iwan.
Selain vaksin untuk siswa, harus ada langkah percepatan vaksinasi untuk guru agar dapat memiliki kekebalan dari virus Corona dan turut membentuk kekebalan kelompok di satuan pendidikan. “Sehingga warga sekolah yang tidak bisa di vaksin dapat ikut terlindungi,”.
Di lapangan masih banyak guru yang enggan di vaksin, terdapat 4 alasan guru tidak mau divaksinasi, yaitu beredarnya berita hoaks yang malah dipercaya bahwa jika divaksinasi akan ada efek samping yang membahayakan, kemudian ada penyakit bawaan tapi itu hanya alasan pembenaran saja karena sebenarnya mereka takut divaksinasi, kemudian karena Vaksin Sinovac atau corona Vac dari China, beberapa guru meragukan efektivitas dan keamanannya dan menunda untuk divaksin dengan sengaja tidak datang ke tempat kerja padahal petugasnya sudah siap, pungkas Iwan.
(Dadan Sambas)