Bandung, Prabunews.com – Sekitar perjalanan satu jam dari Ciparay-Majalaya ada Kampung Pinggirsari, Desa Cihawuk, Kecamatan Kertasari. Dari daerah ini konon Kabupaten Garut dan Kecamatan Pangalengan hanya tinggal berjarak tempuh setengah jam.
Daerah yang jalannya terjal berbukit mengarungi lembah dan dikelilingi oleh perkebunan sayur, tepat di sebuah cerukannya berdiri Pondok Pesantren “Nur Tauhid” yang dipimpin oleh KH. Asep Hulwani, S. Ty.
Seperti yang disampaikan oleh Yoyo C Durachman, S.Sen bahwa pada awal bulan April yang lalu di Ponpes ini diselenggarakan Hari Teater Dunia dan Hari Puisi, dengan menampilkan dua pementasan drama, dua monolog dan pembacaan puisi. Pementasan Drama berjudul “Busana Terakhir dan Laki Laki di Lembah Jurang” keduanya naskah dan Sutradara: Ustadz Ayi Subhan dengan para pendukung Teater Air Abu abu. Monolog berjudul “Tua” karya :Putu Wijaya yang dimainkan oleh Fasha Imani Febrianti,S.Sn, dan “Marsinah Menggugat “karya :Ratna Sarumpaet dimainkan oleh Ayu Dewi Utami dengan Sutradara: Ridwan Ch. Madris. S. Pd., MM.

Sedangkan acara pembacaan puisi diantaranya tampil, Bara Ramadhan yang membawakan puisi berjudul “Jantre Arkidam” karya Ajip Rosidi serta beberapa penyair yang membacakan karyanya sendiri.
Yang menarik dari event ini, bukan hanya diselenggarakan di Ponpes yang lokasinya bisa dibilang terpencil, namun para penonton pada malam itu sekitar 300 orang, dari mulai anak anak sampai orang tua begitu akrab dengan Sinetron “Ikatan Cinta”. Terbukti ketika pembawa acara menanyakan siapa tokoh tokoh dan pemeran di sinetron itu, secara bersahutan mereka menyebut nama Andien, Aldebaran, Amanda Manopo dan Arya Saloka. Bahkan penonton bisa menjawab dengan tepat adegan dan iklan terakhir dari episode terakhir yang mereka tonton.
Dari fenomena ini paling tidak bisa diambil kesimpulan sementara bahwa tayangan sinetron di televisi swasta dengan mudah bisa menjangkau khalayak yang sangat luas kendati yang berada di pelosok sebuah kampung sekalipun. Namun demikian, ternyata masyarakat juga membutuhkan tontonan alternatif seperti pementasan drama, monolog dan pembacaan puisi.
Mereka tertarik dan senang menikmati tontonan ini. Hal ini disampaikan ketika berdialog interaktif dengan pembawa acara dan ketika menyampaikan testimoni di akhir acara.
Lalu apa yang menjadi masalah apabila kita sekarang melihat hegemoni budaya pop begitu kuat mencengkram pada perikehidupan kebudayaan kita secara umum? Jawaban sementara adalah ketidakadaan kesempatan tampil yang setara dan berkeseimbangan. Kebudayaan pop di antaranya begitu mesra dengan televisi (terutama swasta) komersial yang ditopang oleh sistem ekonomi kapitalis. Sehingga dengan leluasa bisa memproduksi konten acara dan mengkomunikasikannya ke publik yang sangat luas dengan dukungan para sponsor produk yang relevan. Sedangkan kebudayaan non pop termarjinalkan karena dukungan dari berbagai pihak masih sangat terbatas, apalagi sponsor yang sudah pasti sangat berkalkulasi untung rugi secara material.
Namun demikian masih untung, karena adanya kiprah kaum muda dari Sanggar Seni Menara Madris Ciparai-Majalaya yang rela untuk menjadi “Pejuang Kebudayaan (meminjam istilah Alm Bah Nana Munajat)”, masyarakat yang bermukim di lembah yang menggemari Sinetron “Ikatan Cinta” masih bisa mengapresiasi pementasan drama, monolog dan pembacaan puisi.
(Kang Amat)