Bandung | Prabunews.com — Peringatan Pergantian Tahun Pabaru Sunda 1 Kasa 1948 Saka Sunda berlangsung khidmat dan penuh makna pada Sabtu, 20 Desember 2025, melalui rangkaian ritual, doa bersama, dan talkshow (Podcast) bertema “Rekonsiliasi Semesta sebagai Media Tulak Bala dan Tradisi Ritual dalam Pengetahuan Nilai-Nilai Agama serta Budaya di Masyarakat.”
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan tokoh agama dan adat, akademisi, praktisi, profesional, serta pemangku kepentingan budaya, yang bersama-sama merefleksikan relasi manusia dengan waktu, alam, dan nilai-nilai spiritual.

Ritual Pembuka dan Tata Hening
Acara diawali dengan Ritual Pembuka dan Tata Hening Pabaru Sunda yang dipandu oleh Juru Pangaping Ritual, Abah Enjum (Sesepuh . Prosesi ini dimaknai sebagai laku awal untuk menata kesadaran, menyelaraskan batin, serta memohon keselamatan dan keseimbangan dalam memasuki tahun baru Surya Kala.
Hening yang dihadirkan bukan sekadar jeda, melainkan simbol peralihan dari waktu lama menuju waktu baru yang dalam tradisi Sunda menandai kesiapan lahir dan batin.
Dalam sambutan Miranda H. Wihardja, selaku Ketua Pelaksana Kegiatan, Pembina Yayasan Best Daya, serta Sesepuh Komunitas Tokoh Adat Nusantara, menegaskan bahwa Pabaru Sunda bukan hanya perayaan tradisi, tetapi momentum berbenah diri dan rekonsiliasi hidup.
“Rekonsiliasi semesta adalah ajakan untuk mendamaikan kembali hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta. Tanpa kesadaran ini, peradaban mudah kehilangan arah,” ujarnya.
Ritual Rekonsiliasi Semesta dan Doa Bersama
Rangkaian dilanjutkan dengan Ritual Rekonsiliasi Semesta dan Doa Bersama, yang disusun berdasarkan naskah ritual Sunda dan dipadukan dengan doa-doa agama. Prosesi ini melambangkan penyatuan ritme Surya dan Candra, serta perjumpaan nilai kosmologis dan spiritual dalam satu kesadaran bersama.

Panel Dialog “Rekonsiliasi Semesta”
Sesi Panel Dialog Rekonsiliasi Semesta menghadirkan beragam perspektif dari tokoh lintas bidang, antara lain:
- Hokky Situngkir – sains kompleksitas & geometri fraktal “Budaya, Kalender, dan Ritual sebagai Sistem Kode dan Pola”
- K.H. Thonthowi D. Musaddad, Lc., M.A – Pesantren Luhur Garut.
- Dr. Dra. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes. – pengusaha dan pelestari budaya Sunda.
- Ir. H. Rd. Roza Rahmadjasa Mintaredja, M.Ars. – arsitek senior dan pendiri Lembaga Adat Karatuan Padjadjaran.
- Ir. Engkus Ruswana, M.M. – Ketua Organisasi Penghayat Budidaya.
- Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi, M.Si., Ph.D. – akademisi dan pakar ketahanan nasional.
- Garlika Martanegara, S.Sos., M.Si. – pengamat sosial.
- Ir. Rudi Subagio, M.Si. – Pemerhati Budaya.
- Mardiansyah – akademisi
- Abah Enjum – Tokoh budaya Sunda
- Miranda H. Wihardja – Fraktisi budaya dan Pakar Kalender Sunda.
- Sopiadi, S.H. – Pimpinan Media Prabunews.com
Dialog (talkshow) lebih menekankan pentingnya kalender Sunda sebagai penaggalan, tanda atau acuan kebiasaan untuk penyelarasan dalam hidup berkehidupan beserta pelaksanaannya dalam bermasyarakat yang serat akan kearifan lokal seperti ritus (Ritual khusus), tata cara pelaksanan, larangan dan kewajiban, adanya sebab akibat dan lain-lain. Hal tersebut terkandung dalam kalender Sunda yang tentunya para leluhur terdahulu menaggalkannya berdasarkan ragam pengalaman-pengalamannya yang disertai dengan pemikiran dan kebijakan yang mampu menjawab krisis ekologis, sosial, dan spiritual masyarakat hingga generasi sekarang.

Acara ditutup dengan refleksi bersama, meneguhkan kembali filosofi Sunda:
“Ngindung ka Waktu, Ngawula ka Jaman, Ngamulyakeun Gusti, Ngariksa Alam.”
Peringatan Pabaru Sunda 1 Kasa 1948 Saka Sunda menegaskan bahwa pergantian tahun bukan sekadar hitungan waktu, melainkan peralihan kesadaran, sebuah panggilan untuk merawat harmoni semesta demi keberlanjutan kehidupan.