Internasional |Prabunews.com – Jagat media sosial dihebohkan dengan klaim bahwa seorang ahli fisika yang pernah mengajar di Harvard berhasil “menemukan lokasi Tuhan” dengan jarak sekitar 439 miliar triliun kilometer dari Bumi. Benarkah klaim ini merupakan penemuan ilmiah?
Asal Mula Klaim
Klaim tersebut berasal dari Dr. Michael Guillen, mantan fisikawan yang pernah menjadi pengajar di Harvard University. Dalam pandangannya, ia mengaitkan konsep kosmologi modern — khususnya tentang cakrawala kosmik (cosmic horizon) — dengan deskripsi teologis mengenai surga dalam kitab suci.
Menurutnya, ada titik sangat jauh di alam semesta, sekitar 273 miliar triliun mil (setara ±439 miliar triliun kilometer), yang ia tafsirkan sebagai “batas fisik” tempat keberadaan Tuhan.
Namun perlu ditegaskan, pernyataan tersebut bukan hasil eksperimen ilmiah baru, bukan juga temuan observasi teleskop atau penelitian berbasis data astronomi terkini.
Apa Itu Cakrawala Kosmik?
Dalam ilmu kosmologi, cakrawala kosmik adalah batas terjauh alam semesta yang dapat kita amati. Batas ini ada karena alam semesta terus mengembang, sehingga ada wilayah yang cahayanya belum sempat mencapai Bumi.
Artinya:
- Itu adalah batas pengamatan manusia.
- Bukan lokasi objek tertentu.
- Bukan titik fisik yang dapat dijangkau atau diverifikasi sebagai “tempat”.
Para astronom menjelaskan bahwa di titik tersebut waktu tidak benar-benar berhenti. Yang terjadi hanyalah efek relativistik akibat perluasan ruang.
Sikap Komunitas Ilmiah
Hingga saat ini:
- Tidak ada jurnal ilmiah peer-reviewed yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki lokasi fisik.
- Tidak ada bukti observasional yang mendukung klaim tersebut.
Komunitas ilmiah memandang klaim ini sebagai interpretasi filosofis atau teologis pribadi.
Sains dan teologi bekerja dengan pendekatan berbeda. Sains mengandalkan pengamatan dan bukti empiris, sementara agama berbicara dalam ranah keyakinan dan metafisika.
Kesimpulan
Klaim “lokasi Tuhan ditemukan” lebih tepat disebut sebagai opini atau interpretasi pribadi, bukan penemuan ilmiah resmi.
Sebagai masyarakat yang cerdas, penting untuk: ✔ Memeriksa sumber berita
✔ Memahami konteks ilmiah
✔ Tidak langsung percaya pada judul sensasional
PrabuNews mengajak pembaca untuk tetap kritis dan bijak dalam menerima informasi.
Jika Anda ingin pembahasan lebih dalam tentang kosmologi modern dan batas alam semesta, tulis di kolom komentar atau kirimkan pertanyaan Anda ke redaksi.