Bali, Prabunews.com – Sabtu, 20 November 2021, Hari Raya Kuningan menjadi salah satu hari besar atau hari suci bagi umat Hindu, perayaan ini jatuh pada hari saniscara (Sabtu), Kliwon, Wuku Kuningan. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari dengan menggunakan perhitungan kalender bali (1 bulan dalam kalender Bali = 35 hari).
Pelaksanaan Hari Raya Kuningan sebenarnya lanjutan dari rangkaian hari Raya Galungan, tepatnya 10 (sepuluh) hari setelah perayaan Hari Raya Galungan. Pada saat Hari raya Kuningan, umat Hindu akan menghaturkan persembahan kepada para leluhur, memohon kemakmuran, perlindungan, keselamatan dan juga tuntunan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Hari Raya Kuningan pada hari ini juga dijadikan moment dalam Kegiatan Pembinaan Kerohanian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) khususnya yang berada di Lapas/Rutan se-Bali. “Selama menjalani masa pidana di dalam Lapas/Rutan, seluruh WBP terus didorong untuk aktif dalam mengikuti setiap program Pembinaan yang ada.” ujar Kepala Kantor Wilayah Jamaruli Manihuruk.
Pembinaan Kerohanian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama, meningkatkan pengetahuan agama serta memantapkan kembali kepercayaan diri mereka sehingga dapat bersikap dan berprilaku yang lebih baik di masa yang akan datang.

Dalam Perayaan Hari Raya Kuningan di Lapas/Rutan se-Bali, selain melaksanakan persembahyangan bersama terlihat Para WBP juga mengikuti rangkaian kegiatan Pembinaan Kerohanian lainnya.
Kegiatan Pembinaan Kerohanian yang diberikan salah satunya adalah Dharma Wacana (Siraman Rohani) sekaligus melakukan Upacara Pelukatan (UpacaraPembersihan Diri).
Pada kesempatan yang sama, Para WBP juga diberikan pembinaan kemandirian berupa Pembekalan Keterampilan Membuat Keben dari Koran serta Keterampilan Seni Tari Bali.
Seperti diketahui, keben atau yang sering disebut dengan sokasi merupakan prasarana untuk persembahyangan dan tempat untuk membuat sesajen upacara atau banten, begitu pula dengan Keterampilan Seni
Tari Bali dimana Tari Bali sering dipergunakan sebagai sarana pelengkap upacara adat/ritual di Bali.
“Dalam memberikan pembinaan bagi WBP harus diimbangi antara Pembinaan kerohanian dan kemandirian, hal ini menjadi penting agar dapat membentuk WBP tidak hanya taat dalam beribadah namun juga akan dibekali suatu keterampilan.
Kita juga berharap mereka nantinya keluar dari sini dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.” Tutup Jamaruli Manihuruk
(AR)