Belajar penuh hikmah dari Kejadian SMKN 2 Garut

Rahmat Suprihat, Guru SMPN 55 Kota Bandung – Dewan Redaksi Prabunews.com

Sekolah sebagai ruang transformasi perubahan memiliki peran strategis yang sangat kuat.
Perubahan tatanan dan nilai-nilai kebaikan sejatinya terjadi di ruang-ruang yang ada di satuan pendidikan tersebut.

Tidak hanya menjadikan peserta didik agar memiliki kapasitas dan kompetensi baik di dalam pencapaian nilai-nilai akademik tetapi yang paling utama sekolah harus mampu melahirkan peserta didik menjadi generasi yang tinggi akan nilai-nilai karakter.

Disiplin positif
Dalam rangkaian melahirkan nilai-nilai karakter peserta didik tentunya setiap sekolah mengemasnya melalui program-program berbasis disiplin positif sesuai dengan panduan yang telah dimaklumi bersama terutama oleh para pendidik dimanapun berada.

Selain itu dengan hadirnya disiplin positif diharapkan dapat memposisikan peserta didik dan para pendidik dalam satu ruang kesepakatan mulia untuk saling menghargai kapasitas masing-masing.
Pendekatan disiplin positif lebih menekankan pada titik pembangunan ruang kesadaran peserta didik akan pentingnya nilai-nilai karakter baik tersebut sebagai piranti kehidupan sosial sehingga perubahan karakter baik akan hadir berdasarkan tanggung jawab peserta didik sebagai pribadi yang terikat regulasi aturan.

Tata tertib adalah komitmen bersama
Sekolah sebagai ruang yang penuh dinamika sosial tentunya harus memiliki tata tertib yang akan mengatur sikap dan perilaku warga sekolah terutama peserta didik dalam melaksanakan aktivitasnya, tentunya tidak hanya pada saat belajar tetapi terima dalam ruang-ruang komunikasi sosial.

Tata tertib sekolah yang berisi tentang kesepakatan warga sekolah terutama peserta didik idealnya merupakan kesepakatan yang dilahirkan bersama warga sekolah baik itu peserta didik sebagai user, orang tua siswa dan guru sebagai pendidik melalui kajian dari banyak aspek dan unsur-unsur yang masuk dalam ruang pertimbangan rasional.

Tata tertib sekolah sebagai kesepakatan bersama tentunya menjadi panduan kehidupan sosial peserta didik yang harus dilaksanakan dan tidak boleh dilanggar.

Satu hal lain yang beririsan dengan tata tertib siswa sekolah adalah penerapan sangsi sebagai upaya membangun efek jera dan sangsi inipun tentunya tidak keluar dari substansi nilai-nilai pendidikan.
Penerapan sangsi pun harus disesuaikan dengan jenis dan bobot pelanggaran.
Jenis dan bobot sangsi dapat diklasifikasikan ke dalam ruang pelanggaran ringan, sedang dan berat.
Sangsi yang dihadirkan tentunya harus memberikan rasa keadilan dari mulai teguran, sangsi sosial dan bahkan sampai pengembalian peserta didik ke pihak orang tuanya.
Artinya setiap jenis pelanggaran baik kesiangan, cara berpakaian, bolos sekolah, rambut yang tidak sesuai aturan, perkelahian, bullying dan bahkan narkoba dapat diselesaikan sesuai sangsi dan aturan kesepakatan tersebut.

Pentingnya komunikasi
Selain itu yang perlu kita sadari adalah bahwa setiap masalah hadir karena buruknya komunikasi.
Oleh karena itu setiap pelanggaran yang didapati di sekolah sekecil apapun harus dikomunikasikan dengan orang tua terlebih lagi di zaman yang serba mudah akibat dari hadirnya teknologi komunikasi.
Dengan adanya komunikasi yang intens dan cepat maka tindakan pelanggaran itu dapat dengan segera dicarikan solusi penyelesaiannya.

Para pendidik tidak harus memposisikan dirinya sebagai eksekutor atas pelanggaran tersebut yang kadang pada sisi tertentu orang tua atau bahkan publik tidak menerimanya.
Komunikasi pun akan dapat menjadi ruang konsultasi aktif yang membangun kesetaraan pembagian tugas dan peran dalam mendidik peserta didik antara sekolah dan orang tua.

Terjadinya gesekan antara pendidik (sekolah) dengan orang tua dan masyarakat karena setiap tindakan kurang terkomunikasikan dengan baik bahkan sampai batas maksimal sehingga setiap tindakan pendidik (guru) dalam menegakkan aturan/tata tertib sekolah dianggap melampaui batas walaupun tentunya gurupun punya alasan jelas dalam melakukan tindakan tersebut.

Scroll to Top