Bersepeda Sudah Menjadi Kebiasaan Warga Surabaya, Pemkot Tambah Jalur Sepeda

Surabaya, Prabunews.com – Bersepeda di kota besar seperti Surabaya menjadi tren saat ini terlebih saat pandemi Covid-19. Masyarakat memanfaatkan jalan-jalan protokol untuk bersepeda atau nggowes.

Memfasilitasi boomingnya pesepeda di Surabaya, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya sedang merancang penambahan jalur sepeda yang saat ini dalam tahap survei lokasi.

Bahkan nanti jalur sepeda di pusat kota hingga ke wilayah perbatasan di Surabaya Selatan yang sudah ada jalur sepedanya akan tersambung dengan wilayah seperti Surabaya Barat, Surabaya Timur dan Surabaya Utara.

Kasi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Dishub Kota Surabaya, Beta Ramadhani mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengkaji dan mematangkan penambahan jalur dan lokasi yang bisa tersambung jalur sepeda di Surabaya.

Hal ini semata untuk membudayakan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi yang aman dengan lingkungan. “Kita sedang matangkan konsep jalur sepeda dengan pakar transportasi dari ITS. Kita ingin analisanya lebih mendalam dari data pemilihan lokasi,” katanya, Jumat (11/9).

Beta menjelaskan, dasar penambahan jalur sepeda tersebut berdasarkan animo masyarakat yang saat ini gemar bersepeda. Sehingga budaya bersepeda bisa dilakukan di Surabaya yang ke depan tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi yang menimbulkan kemacetan.

Survei yang dilakukan Dishub memperhitungkan keselamatan pesepeda dan dampak pada lalu lintas ketika jalannya digunakan satu lajur.

“Status jalan dipertimbangkan, apakah jalan nasional atau jalan kota. Aturan kecepatan kendaraan di dua jalan tersebut jelas berbeda. Kami tentu menghindari hal-hal yang bisa membahayakan pesepeda. Jadi, diutamakan jalur kota,” terangnya.

Ia melanjutkan bahwa kesinambungan antara jalur sepeda yang sudah ada dengan jalur yang akan dibuat menjadi hal penting. Namun, itu tetap bergantung hasil kajian nanti.

“Misalnya kita mengkaji Surabaya barat ini animo pesepada gimana? dari luar jalurnya yang akan digunakan nanti itu juga kita kaji, juga untuk lokasi-lokasi yang strategis dan memungkinkan,” imbuhnya.

Sementara itu pakar transportasi ITS, DR Machsus Fawzy MT mengatakan bahwa penggunaan sepeda di Surabaya bagian dari pengembangan transportasi yang ramah lingkungan.

Sehingga peluang untuk pengembangan budaya bersepeda ini akan terus berlanjut. Saat ini sekitar 20 hingga 30 persen ada penggowes baru yang muncul di tengah pandemi ini.

“Sejatinya karakteristik jalan di Surabaya cukup bagus. Jadi penggunaan sepeda bagian dari pengembangan transportasi yang ramah lingkungan sehingga kendaraan bermotor dapat diminimalisir salah satunya sepeda atau jalan kaki,” katanya.

Yang harus dilakukan oleh pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya saat ini menurut Machsus adalah harus menyediakan lajur sepeda dengan pelindung untuk keselamatan pengguna. Seperti yang ada di negara maju. “Dengan begitu tingkat kenyamanan pengguna sepeda terlindungi,” katanya.

Machsus menjelaskan bahwa ada tiga aspek yang harus diperhatikan untuk mengambil kebijakan dalam budaya bersepada.

Pertama aspek keselamatan, dampak kinerja jalan, dan pengaturan jam operasional bersepada.

“Tiga aspek ini bisa efektif ketika dijalankan. Oleh karena itu perlu kajian dan survei untuk membuat nyaman pengendara sepeda dan pengendara lainnya,” jelasnya.

(H.WHB)

Scroll to Top