Bocah 15 Tahun Lumpuh dan Stroke Otak Akibat Main Game Sehari 22 Jam

Cimahi, Prabubews.com – Pengalaman di bawah ini mudah-mudahan bisa dijadikan pembelajaran dan pengalaman yang berarti dalam hal memberikan perhatian bagi anak anak kita di masa pandemi covid – 19 khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan tahun ajaran baru dimana kegiatan belajar mengajar (kbm) yang diterapkan bersifat pembelajaran jarak jauh (pjj) seperti cerita di bawah ini. Bermain video game saat ini sudah menjadi hal biasa, hampir semua anak dan dewasa setiap hari tak bisa lepas dari bermain game.

Namun, kabar yang membuat miris akibat bermain game terjadi pada anak berusia 15 tahun asal China yang membuat anak tersebut tidak bisa menggerakkan lengan dan tangan kirinya.

Hal tersebut membuat kaget orang tua dan keluarganya saat tiba-tiba sang anak alami kelumpuhan.

Diketahui anak tersebut setiap harinya menghabiskan waktu 22 jam nonstop bermain game komputer selama satu bulan.

Bocah tersebut bernama Xiaobin saat bermain game selalu asyik dan fokus dan juga sang ibu awalnya menganggap bermain game hal yang lumrah atau biasa dan tak akan mengakibatkan apa-apa.

Akibat dianggap hal biasa oleh sang ibu membuat Xiobin menjadi kecanduan dan berakhir harus dilarikan ke rumah sakit di kota Nanning setelah pingsan di rumah.

Dikutip Prabunews dari DailyMail, Sabtu (11 Juli 2020) apa yang dialami Xiaobin pertama kali diungkap Nanning Television. Xiaobin diketahui menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiangbin Guangxi sejak insiden yang membuat sang ibu syok tersebut.

Seperti siswa kelas 9 lainnya, Xiaobin banyak beraktivitas di rumah selama lockdown sejak Februari lalu. Seluruh sekolah di China tutup dan memberlakukan pembelajaran daring.

Kepada media lokal Ibu Xiaobin mengatakan putranya menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar. Dikira belajar dan tak macam-macam, ia tak mengira Xiaobin kecanduan berat video game.

Ia mengaku percaya saja saat Xiaobin mengatakan dirinya selalu berada di balik layar komputer untuk mengerjakan kelas online. “Dia menutup semua jendela dan mengunci pintu kamarnya jadi kami tak tahu apa yang sebenarnya dikerjakan.”

Namun akhirnya sang ibu tahu Xiaobin nyaris tak pernah tidur dalam dua bulan terakhir. Ia menghabiskan 22 jam sehari untuk bermain video game nonstop. “Dari chat dengan temannya, Ibunya tahu anaknya tak pernah tidur, hanya dua jam saja sehari,” ujarnya.

Xiaobin dilarikan ke rumah sakit pada bulan Maret setelah tiba-tiba pingsan. Dokter mendiagnosis siswa SMP itu mengalami stroke otak setelah menjalani CT scan. Dia juga kehilangan sensasi di lengan dan tangan kirinya.

Dokter Li, spesialis otak rumah sakit mengatakan kondisi Xiaobin dipicu gaya hidup tidak sehat akibat begadang demi bermain game. “Alasan utamanya pola tidur dan pola makan yang tidak teratur karena tidak bersekolah. Orangtua juga terlalu menoleransi perilakunya.”

“Kurang gizi dan istirahat menyebabkan berkurangnya jumlah darah dan oksigen di otak hingga memicu stroke otak,” kata Li. Xiaobin menjalani perawatan rehabilitasi di rumah sakit Nanning.

Sedangkan Dokter Jin, kepala terapis rumah sakit mengatakan sulit untuk menentukan apakah Xiaobin dapat sepenuhnya pulih. Kecanduan video game telah menjadi masalah di kalangan anak muda di Cina. Mereka mengabaikan studi, kehidupan sosial hingga keluarga untuk game online.

Banyak orangtua yang kemudian memanfaatkan rehabilitasi detoks digital sebagai upaya terakhir untuk membatasi khayalan anak-anak mereka di dunia digital. Kecanduan internet kini sudah dianggap sebagai gangguan klinis di China.**

(Dadan Sambas)

Scroll to Top