Cimahi, Prabunews.com – Status zona merah Coronavirus Disease (Covid-19) Kota Cimahi memberi kekhawatiran warga Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang wilayahnya berbatasan langsung dengan wilayah Cimahi.
Seperti yang dikutip Prabunews.com dari Ayobandung.com. keterangan Evi Susilawati (34) salah seorang warga Desa Tanimulya, KBB mengaku khawatir dengan kondisi Kota Cimahi yang kembali zona merah Covid-19. Ini dikarenakan kegiatan kesehariannya tidak lepas dari interaksi lintas wilayah ke Kota Cimahi.
Sebagai antisipasi, dirinya mulai membatasi berkegiatan ke luar rumah jika tidak terlalu penting dan lebih memilih untuk beraktivitas di sekitar Kabupaten Bandung Barat.
“Khawatir pasti ada, karena baca di berita Kecamatan Cimahi Utara itu kan berbatasan langsung dengan Tani Mulya, masuknya zona merah, kasus yang positifnya banyak,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun kasus pasien positif Covid-19 di Cimahi hingga Jumat (18/9/2020) pukul 13.00 WIB, menyentuh angka 278 kasus.
Rinciannya 57 orang dinyatakan positif aktif, 214 dinyatakan sembuh, dan 7 orang meninggal dunia. Wilayah yang masuk zona merah adalah Kecamatan Cimahi Utara (100 kasus), Cimahi Selatan zona oranye (105), sedangkan Kecamatan Cimahi Tengah (73) zona kuning.
Terpisah, Camat Ngamprah Aep Supriatna berencana akan membuat usulan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penyebaran Covid-19 KBB untuk melakukan pengetatan mobilitas warga di daerah perbatasan antara Ngamprah dengan Kota Cimahi.
Langkah itu dipandang perlu untuk menghindari penyebaran Covid-19, karena tidak menutup kemungkinan warga di perbatasan wilayah saling berinteraksi.
“Kita akan coba usulkan ke tingkat pemerintahan lebih tinggi (kabupaten) agar ada pengetatan atau warning sebagai antisipasi saja,”ucapnya.
Apalagi, lanjut dia, Ngamprah termasuk satu dari tiga kecamatan di KBB yang masuk kategori zona merah. Itu dengan ditemukannya kasus positif Covid-19 di Desa Tanimulya, Cilame, Mekarsari dan Sukatani.
Meskipun saat ini yang di Tanimulya dan Cilame sudah sembuh. Tinggal yang dua lagi di Mekarsari dan Sukatani, keduanya bukan warga setempat tapi ngontrak karena kerja di KBB.
“Yang bisa kami lakukan saat ini dalam mencegah penyebaran Covid-19 adalah dengan melakukan pembatasan kegiatan sosial, dan itu sudah disampaikan ke para kepala desa,” ujarnya.
(Dadan Sambas)