Cimahi, Prabunews.com – Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Jawa Barat, yang digelar di Kota Bandung, menuai pertentangan.
Akhirnya, rencana lokasi deklarasi pun berpindah-pindah, Senin, 7 September 2020.
Namun, pada akhirnya, deklarasi berlangsung di sebuah rumah warga Bandung.
Rencananya akan dilaksanakan di Gedung Bikasoga Kota Bandung.
Poster digital yang memuat susunan acara bahkan sudah disebar jauh sebelum acara ini terselanggara.
Namun, seminggu jelang deklarasi pihak manajemen Gedung Bikasoga kemudian membatalkan itikad tersebut karena menganggap acara deklarasi bisa melanggar protokol kesehatan COVID-19.
Kemudian, panitia pun memindahkan acara di Hotel Grand Pasundan.
Namun, niatan menggelar deklarasi di tempat tersebut juga gagal.
Alasannya karena Satgas COVID-19 Kota Bandung melayangkan surat kepada pihak manajemen hotel atas tidak adanya izin untuk menggelar acara tersebut.
Usai deklarasi, massa KAMI pun merapat ke halaman Gedung Sate di Jalan Diponegoro Kota Bandung.
Jendral Gatot Nurmantyo, presidium KAMI berorasi dari atas mobil truk warna kuning, dan dikelilingi massa.
“Deklarasi KAMI Jabar terpaksa dilaksanakan di salah satu rumah penduduk karena “dilarang” – dan dilanjutkan dengan orasi di halaman Gedung sate. Baru kali ini Jenderal orasi di atas truk,” kata tokoh KAMI, yang juga mantan sekretaris menteri BUMN, M Said Didu di akun Twitter-nya, @msaid_didu, Senin siang.
Jenderal Gatot, dalam orasi yang cuplikan videonya dibagikan Said Didu, menggambarkan detik-detik pindahnya lokasi deklarasi.
“Alhamdulillah saya sampaikan bahwa deklarasi KAMI Jawa Barat sudah berlangsung sukses,” katanya disambut teriakan hamdalah dari sejumlah massa.
Gatot mengatakan, “Saya tahu anda kecewa karena tadinya akan hadir bersama-sama , tapi karena situasi, tidak bisa hadir, sehingga datang ke sini (Gedung Sate).
Ketika dapat penolakan di hotel, saya tersenyum 10 kali. Saya bilang Alhamdulillah. Teman saya bilang saya gila, emang saya gila.
Pindah ke (hotel) Pasundan, jam 3 sudah datang surat dari satgas covid, dari kepolisian , sudah boleh, di hotel boleh.
Tiba-tiba jam 6 sore, surat satgas covid dicabut. Menerima laporannya saya tersenyum 100 kali,” ujar Gatot yang menyebut dirinya sendiri ‘gelo’ seraya kemudian tertawa.
Sementara itu, dilaporkan Prabunews, aksi penolakan oleh puluhan mahasiswa yang tergabung Ikatan Cendekia Cipayung (ICC) diusir aktivis KAMI.
Para mahasiswa tersebut menyuarakan aksi penolakan deklarasi KAMI karena dinilai dapat menimbulkan kerumunan ditengah masa pandemi Covid-19. Namun aksi tersebut mendapat pengusiran dari aktivis KAMI.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, para mahasiswa yang sedang melakukan aksi kemudian didatangi sejumlah orang dari aktivis KAMI, yang meminta untuk membubarkan aksi penolakan tersebut. Mobil yang membawa speaker untuk orasi penolakan pun, langsung meninggalkan lokasi diikuti oleh para mahasiswa.
Koordinator Aksi Ikatan Cendekia Cipayung (ICC), Adi Nugraha menyesalkan aksi kekerasan dan pengusiran oleh aktivis KAMI kepada para mahasiswa yang sedang berunjukrasa. Padahal penyampaian pendapat di muka umum dilindungi oleh negara.
“Kami menyesalkan akan aksi pembubaran tersebut, yang dilakukan secara paksa dan anarkis disertai pemukulan dan pengerusakan mobil komando yang dibawa. Sehingga pada akhirnya, untuk menghindari yang tidak diinginkan, maka akhirnya kami membubarkan diri,” terangnya.
Lebih jauh, pihaknya mengutuk keras aksi kekerasan dan pengusiran yang dilakukan aktivis KAMI kepada mahasiswa ICC. Bahkan meminta pihak kepolisian untuk bertindak tegas, akan kejadian tersebut, ujarnya.
(Dadan Sambas)