

Bandung | Prabunews.com – Kalender bukan sekadar alat penanda hari, bulan, dan tahun. Dalam sejarah peradaban manusia, kalender merupakan manifestasi cara suatu masyarakat memahami alam semesta, mengatur kehidupan sosial, serta membangun relasi antara pengalaman manusia dan keteraturan kosmos.
Dalam konteks Sunda, sistem penanggalan yang direkonstruksi oleh Ali Sastramidjaja menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki tradisi pengetahuan waktu yang berakar kuat pada observasi astronomi dan pengalaman ekologis. Kalender Sunda pun dapat dipahami sebagai sebuah “Kompas Semesta”, yakni sistem orientasi waktu yang membantu manusia membaca ritme alam dan menempatkan dirinya dalam keteraturan kosmos.
Secara konseptual, Kalender Sunda tidak lahir dari spekulasi mistik, melainkan hasil pengamatan empiris terhadap fenomena langit yang berlangsung selama berabad-abad. Sistem ini dibangun dari unsur-unsur astronomis seperti siklus bulan (bulan sinodik), fase terang dan gelap bulan (Suklapaksa–Kresnapaksa), pergerakan matahari, serta pengamatan musim yang berkaitan langsung dengan aktivitas kehidupan masyarakat.
Dalam kajian akademik, Kalender Sunda dapat ditempatkan dalam tradisi astronomi budaya (cultural astronomy) dan etnoastronomi, yaitu sistem pengetahuan astronomi yang berkembang melalui observasi alam dan diwariskan secara turun-temurun. Dalam perspektif ini, waktu tidak sekadar angka, melainkan sistem koordinat kosmologis yang menuntun manusia memahami keteraturan semesta.
Namun, perjalanan sejarah menunjukkan adanya keterputusan memori terhadap sistem penanggalan lokal Sunda. Sejak ekspansi kekuasaan Mataram Islam ke wilayah Priangan pada abad ke-17, terjadi integrasi administratif dan budaya yang membawa sistem kalender Jawa ke dalam kehidupan masyarakat Sunda. Proses ini menyebabkan fungsi sosial Kalender Sunda perlahan memudar.
Meski demikian, para akademisi menilai bahwa fenomena ini tidak dapat disederhanakan sebagai akibat tunggal intervensi politik. Hilangnya penggunaan Kalender Sunda juga dipengaruhi oleh kolonialisme Belanda, transformasi agama, modernisasi administrasi, serta perubahan sistem pendidikan.
Kondisi tersebut memunculkan apa yang disebut sebagai “amnesia sejarah temporal”, yakni hilangnya ingatan kolektif masyarakat terhadap sistem pengetahuan waktunya sendiri. Kalender Sunda tidak sepenuhnya hilang, melainkan tersimpan dalam bentuk prasasti, naskah kuno, serta tradisi lisan.
Upaya rekonstruksi kemudian dilakukan melalui pendekatan filologi. Sejumlah sumber seperti Prasasti Sanghyang Tapak, naskah Sunda kuno, manuskrip kolonial, serta perbandingan dengan sistem kalender Asia Tenggara menjadi landasan penting. Melalui metode ini, berbagai unsur seperti nama bulan, struktur paksa, sistem tahun, hingga aspek kosmologis berhasil ditelusuri kembali.
Menariknya, penelitian Kalender Sunda kini tidak hanya berhenti pada kajian teks. Perkembangan teknologi modern memungkinkan verifikasi ilmiah melalui astronomi komputasional, perangkat lunak ephemeris, serta simulasi fase bulan. Pendekatan ini memungkinkan analisis tingkat akurasi sistem penanggalan, termasuk deviasi fase bulan dan konsistensi siklus lunar.
Dengan demikian, lahir jembatan antara tradisi lama dan sains modern, menghubungkan filologi dengan astronomi berbasis komputasi. Di tengah dominasi sistem waktu global, Kalender Sunda menawarkan perspektif alternatif bahwa waktu juga memiliki dimensi ekologis, kosmologis, dan kultural. Sistem ini mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari alam, dan ritme kehidupan berkaitan erat dengan ritme semesta.
Dalam perspektif komunikasi, praktik yang disebut sebagai Ritual Pengetahuan menjadi medium penting dalam membangun makna, identitas budaya, serta kesadaran kolektif melalui pembacaan waktu. Sementara dalam perspektif psikologi, ritual ini berfungsi sebagai mekanisme pembentukan makna dan penguatan keterhubungan sosial.
Hal tersebut tergambar dalam kegiatan Seri Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya yang diselenggarakan BESTDAYA (Bengkel Studi Budaya) pada Sabtu, 30 Mei 2026, di KM Nol Kota Bandung, Savoy Homann.
Kegiatan yang bertepatan dengan Tumpek Wage, 6 Suklapaksa Kartika 1963 Caka Sunda ini menjadi momentum awal Tahun Hurang Tembey dalam sistem penanggalan Sunda. Acara rutin setiap Sabtu (Tumpek) tersebut dipandu oleh Miranda H. Wihardja selaku pendiri Yayasan BESTDAYA sekaligus pengelola sistem penanggalan tradisional Sunda.
Kalender Sunda dalam konteks ini tidak lagi sekadar warisan budaya, melainkan sebuah sistem pengetahuan yang utuh, menghubungkan observasi astronomi, memori sejarah, kearifan lokal, serta teknologi modern.