Kemasan Tahun Ajaran Baru di Masa Pandemi Tidak Boleh Mati Gaya

Bandung, Prabunews.com – Tahun Ajaran 2021-2022 akan segera tiba, hiruk pikuk persiapan para peserta didik menjadi nuansa khas disetiap kehadirannya.

Awal tahun ajaran baru seperti biasa dimulai dengan gerbang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di setiap sekolah.

Drs.H Cucu Saputra, M.M.Pd Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung

Drs.H Cucu Saputra, M.MPd Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung mengatakan MPLS merupakan sebuah kemasan yang berorientasi terhadap pengenalan lingkungan baru pada peserta didik.

Tujuan MPLS itu sendiri dapat menjadi ajang memperkenalkan terhadap kondisi dan situasi kekinian termasuk kondisi pandemi yang harus disikapi oleh semua unsur warga.
Namun keberadaan kondisi ini harus dapat mengahadirkan sikap untuk tetap konsisten terhadap penyesuaian kondisi dalam arti kata kita tidak boleh mati gaya.

Semua kebijakan mekanisme MPLS yang merupakan bagian dari Tahun Ajaran Baru 2021-2022 dilakukan secara virtual dan kita harus serius dan tidak main-main dengan kemasan MPLS sesuai kondisi.

Adapun konten MPLS sendiri lebih berorientasi pada pengenalan lingkungan yang baru bukan saja bersifat fisik tetapi hal lain yang sifatnya filosofis, sosio cultural tentang institusi pendidikan yang baru termasuk kurikulum dan Kebijakan- kebijakan strategis di lingkungan Pendidikan yang telah dikemas melalui panduan silabus.

Keberadaan panduan ini tetap memberi ruang bagi instansi untuk berkreatifitas sesuai karakteristik lingkungan masing-masing dan tentunya tidak membebani orang tua terutama secara finansial.

Intinya semua pihak guru, masyarakat termasuk orang tua dan peserta didik untuk menyambut tahun ajaran baru dengan riang gembira dan antusias.
Intinya tidak boleh mati gaya, tegas Cucu

Berbicara tentang kendala yang mungkin muncul manakala MPLS Daring dilaksanakan termasuk kecakapan IT, kepemilikan alat IT, Cucu Saputra mengatakan bahwa kebijakan pemerintah sudah diorientasikan hadir dengan menganalisis permasalahan yang hadir termasuk kepemilikan gawai.

Ini sudah dipetakan oleh tingkat satuan Pendidikan dan menjadi prioritas termasuk melalui penganggaran oleh pemerintah.

Secara prinsipnya bahwa Pembelajaran Jarak jauh itu meliputi dua pilihan Daring dan Luring.
Masalah yang berhubungan dengan hal IT dan semua turunannya sudah menjadi bagian perhatian pemerintah.

Tiga hal yang menjadi perhatian mekanisme PJJ diantaranya -Koneksitas dihadirkan layanan infrastruktur pada ringan yang terus dioptimalkan di samping pemberian kuota belajar.
-Kepemilikan gawai sudah teranggarkan oleh pemerintah dan diharapkan tepat sasaran.
-Kemudian konten bahan ajar yang dapat menggairahkan para peserta didik.

Intinya MPLS lebih menekankan kepada Pendidikan karakter dan inipun harus menjadi perhatian orangtua peserta didik.

Kedepannya kita sangat tidak mengharapkan proses Pendidikan hanya menjadi tugas berat bagi sekolah namun sinergitas pembagian tugas dengan orang tua pun harus benar-benar terbangun. Sehingga nantinya tidak ada kasus anak bermain manakala PJJ dilaksanakan.

Bagaimana pentingnya pendidikan informal dalam hal ini pendidikan keluarga dalam menghadirkan peserta didik yang mengetahui peran dan fungsinya dalam membangun dirinya sendiri.

Materi bahan ajar sudah disiapkan oleh pemerintah dan ini merupakan bagian pelayanan maksimal.
Kendala apapun yang hadir selayaknya jangan dijadikan issue besar namun dicari solusinya secara bersama karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, ungkap Cucu.

(Kang Amat)

Scroll to Top