Bandung, Prabunews.com – Kemenparekraf menargetkan 205 Desa Wisata Mandiri pada tahun 2024. Desa wisata ini,akan menjadi suatu wajah baru yang segar, dari pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. Program ini membutuhkan kerja sama yang intensif antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat desa.
Demikian Menparekraf Wishnutama Kusubandio pada Apresiasi Perguruan Tinggi Terbaik dalam Pendampingan Desa Wisata 2020 yang digelar secara hybrid (online dan offline) dari Hotel Raffles Jakarta.

Menparekraf menjelaskan, melalui Pendampingan Desa Wisata ini, aktivitas ekonomi desa dapat semakin menggeliat serta meningkat manfaatnya, terutama bagi para pelaku parekraf dan masyarakat desa.
“Saat ini kita harus berjuang membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia, yang terdampak pandemi. Melalui pendampingan desa wisata ini, kami menaruh cita-cita besar agar aktivitas perekonomian semakin menggeliat pascapandemi,” jelas Menparekraf dalam keterangan peresnya, kamis 3 Desember 2020.
Wishnutama menjelaskan, Kemenparekraf telah melakukan restrategi kepariwisataan, yaitu dari pariwisata berdasar kuantitas menuju pariwisata berkualitas.
Pariwisata berkualitas adalah pariwisata yang memberikan pengalaman berbeda, unik, dan tidak ada di tempat asalnya.
“Ke depan, wisatawan cenderung memilih berlibur ke tempat yang berkualitas, memiliki keunikan tersendiri, aman dari COVID-19, dan berkomitmen dalam menerapkan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability). Saya melihat kita sudah punya kekuatan besar untuk menyediakan pengalaman otentik kepada wisatawan, yaitu lewat desa wisata,” ujarnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, berharap program pengembangan Desa Wisata Mandiri bisa terlaksana secara konsisten.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada akhir 2018 ada 1.734 desa wisata dari 83.931 desa yang tersebar di Indonesia. Di level internasional, sejumlah desa wisata di Indonesia juga sudah mendapat pengakuan.
Pada 2019 terdapat empat desa wisata yang masuk Top 100 Destinasi Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days (GGDD), yaitu Desa Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul (DIY), Desa Pentingsari di Kabupaten Sleman (DIY), Desa Pemuteran di Kabupaten Buleleng (Bali), dan Desa Adat Penglipuran di Kabupaten Bangli (Bali).
Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya menambahkan, Kemenparekraf memberikan apresiasi khusus kepada 20 perguruan tinggi yang melatih dan mendampingi desa wisata, sehingga tata kelolanya menjadi semakin baik dan profesional.
“Mereka melakukan Training of Trainer (ToT) bagi para pengajar atau dosen yang mendampingi desa wisata dengan cakupan materi sadar wisata, sapta pesona, protokol CHSE, pelayanan prima, dan pengembangan potensi produk pariwisata,” jelasnya.

