Klitih Jogja Makin Marak, Sultan Minta Proses Hukum Tanpa Pandang Umur

Prabunews.com – Media sosial kembali gempar oleh aksi kejahatan remaja lantaran menewaskan seorang pelajar SMA berusia 17 tahun. Kejahatan remaja yang menjadi fenomena di Jogja itu kini lebih dikenal dengan istilah klitih.

Menganggapi hal itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta pelaku kejahatan jalanan diproses hukum tanpa tebang pilih.

“Ini pelanggaran pidana, saya kira dicari aja diproses. Kalau saya itu sudah berlebih kalau itu. Diproses saja secara hukum,” kata Sultan, Senin (4/4/2022).

Sultan pun berharap kepolisian segera menangkap pelaku. Meskipun pelakunya ini masuk kategori remaja hingga anak-anak, ia dengan tegas meminta proses hukum tetap berjalan karena sudah menimbulkan korban hingga meninggal dunia.

Sultan mendorong polisi tidak menerapkan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan.

“Iya (diproses hukum) perkara nanti (pelaku) anak ini pidana ya sampai meninggal ya. Penegak hukum bisa cari cara dia diproses di pengadilan,” tegas Sultan.

“Kalau menurut saya, itu melanggar hukum. Bukan klitih kenakalan anak saja, tapi sudah terlalu jauh,” sambungnya.

Bagi Sultan, pemda dan petugas keamanan, menangani persoalan ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena terlanjur mengakar.

Dari faktor lingkungan, seperti masyarakat atau orang tua juga memiliki andil besar dalam mengontrol aktivitas anak-anak mereka, termasuk selama bulan ramadan ini.

Sebelumnya, Daffa Adzin Albazith (17), warga Kebumen, Jawa Tengah, pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tewas usai menjadi korban aksi klitih di Jalan Gedongkuning, Kotagede, Kota Yogyakarta, DIY, Minggu (3/4) dini hari.

Polisi menyebut korban bersama beberapa temannya sempat kejar mengejar dengan rombongan terduga pelaku yang memainkan gas motor di depan warung tempat Daffa cs sedang memesan makanan.

Daffa tewas usai terkena ayunan gir bertali pada bagian kepala. Ia sempat dirawat di RSPAU Hardjolukito sebelum dinyatakan meninggal pada Minggu pagi.

Sementara dari pihak SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menyebut Daffa dan temannya itu tengah mencari makan sahur sebelum insiden berdarah itu terjadi.

Adapun Jenazah korban sudah dimakamkan di Kebumen Minggu kemarin.

Scroll to Top