Mencari Pembuktian korelasi MBG dengan Kecerdasan peserta didik 

Bandung, Prabunews.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan sebuah program terobosan pemerintahan Prabowo-Gibran dalam rangka menjaga stabilitas serta kualitas sumber daya manusia yang berorientasi melalui pemenuhan gizi anak-anak pelajar termasuk mereka yang tergolong ke dalam target program tersebut.

Dengan hadirnya program Makan Bergizi Gratis pemerintah memiliki sebuah target yang sangat penting mengingat bahwa kualitas makanan yang akan dikonsumsi oleh para peserta didik khususnya diharapkan akan dapat memberi dampak yang positif terhadap perkembangan fisik dan psikis peserta didik karena memang sangat disadari bahwa asupan makanan yang bergizi diharapkan dapat mampu meningkatkan kualitas fisik peserta didik terutama yang berhubungan dengan perkembangan kapasitas yang terkoneksi langsung dengan kecerdasan peserta didik.

Seperti halnya yang pernah disampaikan oleh Prof. Stella Christie, Ph.D. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam sebuah perbincangan melalui kanal media sosial menyatakan bahwa MBG dapat meningkatkan kemampuan matematika dan berbahasa Inggris para peserta didik.

Namun pernyataannya ini tidak didasari pada aspek-aspek kajian penelitian yang faktual sehingga pernyataannya ini masih harus dibuktikan melalui proses yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu pada saat program MBG ini diberikan dan pada saat mana temuan-temuan keterkaitan MBG dengan kecerdasan bisa disimpulkan menjadi sebuah temuan yang berbasis keilmuan.

Namun pada saat program ini telah berjalan beberapa bulan, sebuah ruang pembuktian melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA) telah mematahkan pernyataan yang disampaikan oleh Wamen yang banyak mengenyam pendidikan di luar negeri ini.

Ini terbukti pada saat hasil TKA numerasi khususnya yang berkaitan dengan pelajaran matematika para peserta didik dinyatakan mendapatkan nilai di bawah ambang batas yang menggembirakan, baik itu nilai matematika TKA SMA dan sederajat nya termasuk nilai TKA matematika untuk tingkat SMP dan sederajatnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Indonesia Abdul Mu’ti mengatakan dengan tegas bahwa nilai TK matematika untuk tingkat SMP sama jebloknya dengan nilai TKA matematika untuk tingkat SMA dan sederajatnya.

Selain itu isu-isu yang disampaikan melalui pernyataan-pernyataan menteri kabinet merah putih yang menyatakan bahwa program MBG ini memiliki keterkaitan erat dengan upaya menghadirkan para peserta didik sebagai generasi yang akan datang dengan kompetensi yang “keren”, baik itu yang dibicarakan berhubungan dengan kondisi fisik maupun dengan kemampuan akademik ternyata pada kenyataannya harus dibuktikan lebih lanjut melalui proses-proses tertentu dan tentunya berdasarkan kajian ilmu pengetahuan yang pada akhirnya dapat disimpulkan apakah MBG memiliki keterisan dengan peningkatan kecerdasan manusia atau peserta didik ? dan sejauh apa keterkaitannya.

Saya sangat meyakini betul bahwa asumsi masukan makanan yang bergizi tidak terbantahkan akan memiliki keterkaitan dengan kondisi fisik para peserta didik termasuk alat-alat yang berhubungan dengan penguatan kecerdasan peserta didik namun harus diyakini betul bahwa piranti kecerdasan dalam hal ini otak dapat dimanfaatkan sebaik mungkin manakala para peserta didik mau dan mampu untuk menggunakan piranti tersebut dengan berbagai macam proses pengesahan kecerdasan.

Hal yang sangat penting dan beririsan sekali dengan peningkatan kualitas kecerdasan seseorang adalah dengan mengasah otaknya melalui proses pembelajaran, baik itu membaca dan kegiatan literasi lainnya.

Selain itu tentunya dengan kegiatan latihan matematika atau kegiatan numerasi yang lainnya.

Proses mengasah kecerdasan dari fasilitas otak yang dimiliki manusia sebagai bagian untuk memastikan bahwa piranti kecerdasan tersebut dapat difungsikan dengan maksimal melalui proses-proses penggunaan piranti otak itu sendiri, termasuk di dalamnya kemampuan untuk menggunakan otak sebagai bagian dalam rangka mencari solusi atas masalah yang dihadapi oleh siapapun termasuk dalam kehidupan keseharian.

Oleh karena itu apabila MBG dinyatakan sebagai salah satu komponen untuk meningkatkan kualifikasi kecerdasan peserta didik maka hal itu harus beriringan dengan berbagai macam proses penguatan latihan, ujian serta setiap program yang digulirkannya. Dan satu hal yang penting bahwa program itu senantiasa harus dievaluasi sesuai dengan kebutuhan temuan-temuan untuk mengukur seberapa besar keterikatan target dari program itu sendiri.

*Faktor-faktor lahirnya kecerdasan*

Ada banyak faktor dalam rangka melahirkan kecerdasan selain dengan ketersediaan asupan makanan yang bergizi diantaranya, Latihan Mental dan Kognitif berupa kegiatan

Membaca Secara rutin, melatih otak melalui permainan logika, semangat mempelajari hal-hal baru yang menantang, meningkatkan daya ingat dengan kegiatan menulis

Pola Hidup Sehat dengan tidur yang cukup dan berkualitas, melakukan olahraga yang rutin, konsumsi makanan bergizi dan sehat untuk memenuhi ketercukupan: nutrisi, vitamin, mineral dan zat lain yang dibutuhkan tubuh dan otak.

Pengelolaan Stres yang baik dan akan berpengaruh terhadap kesehatan sel otak serta akan meningkatkan daya konsentrasi.

Interaksi Sosial dan Eksplorasi dalam ruang bersosialisasi dengan orang lain akan membuat kesehatan mental semakin terlatih dan merangsang daya kritis.

Rahmat Suprihat, S.Pd – Guru SMPN 55 kota Bandung, Dewan Redaksi Prabunews.com
Scroll to Top