
Bandung, Prabunews.com Bahasa seni, tentu melampaui ruang dan waktu. Seperti juga batasan teritorial, tidaklah membelenggu imajinasi dan kedalaman pikiran.
Seni yang selalu menyelinap di ruang kesadaran dan kepekaan rasa, barangkali akan selalu membentuk dirinya sebagai sebuah fenomena yang tidak mudah terbaca sebelumnya. Namun seni sesungguhnya dibangun oleh kesadaran pada ruang dan waktu yang selalu melingkupi hidup manusia. Seperti halanya tidak bisa menafikan, bahwa keterhubungan manusia dengan sesama manusia lainnya, juga dengan alam yang telah memberikan ruang sebagai sebuah moment.
Seperti yang dilakukan oleh Daniel dan Jan Van pada anak-anak Braga, begitu juga dengan sebagian warga yang ikut berkolaborasi membangaun sebuah kesadaran baru berkait soal nilai-nilai artistik.
Elaborasi warga Braga, Daniel dan Jan Van adalah memantik dari ketiadaan menjadi ada, dimana tautan yang terbagun, tidak hanya sekedar keterhubungan jiwa (psikologi), namun pikiran yang di enduskan menjadi sebuah bentuk berbagai jenis karya seni: musik, grafis, gambar dan performance art.
Programa itu dilaksanakan pada Tahun 2012 di Rumah Seni Ropih, dan jejak dokumentasinya masih cukup terbaca, sehi ngga batas ruang waktu itu seperti jelas apa yang telah disampaikan diatas.
Foto-foto dan film dan drawing dan piringan hitam merupakan bentuk alat bukti, bahwasanya telah memberi jawaban, bahwa nilai seni yang diajukan oleh Daniel dan Jan Van Den, merupakan bentuk kesadaran seni partisiapasi.

Kali ini, kita menikmati dan merenungkan bentuk-bentuk karya seni yang dihasilkan oleh kedua seniman ini. Sajian foto, film dan artefak lainnya dari hasil workshop dengan anak-anak dan warga Braga merupakan hal yang tidak terlupakan oleh kedua seniman.
Bagaiamana suasana yang terbangun pada Tahun 2012, itu direpresentasikan kembali melalui bentuk display yang dinamis. Sehingga disisi lain kita seolah diajak bertamasya menikmati detail-detail dari dokumentasi itu.
Disisi lainnya kita seolah diajak pada ruang lain dari ruang galeri. Kedua seniman ini cukup memberi penjelasan pada kita berkait nilai estetiknya yang di bangun nya.
Korelativitas yang dibangun oleh Daniel maupun Jan Van Den pada ruang, sepertri galeri atau ruang yang bisa diapresiasi oleh publik, merupakan rasa tanggungjawab atas usahanya untuk menunjukan pentingnya “seni” didalam kehidupan.
Kesadaran yang dimensionallah yang menjadikan seniman sadar atas nilai-nilai kehidupan seni yang terkandung dalam konteks sosial.
Pemantik kesadaran itu merupakan alat kesadaran bagi orang lain (sensitivitas), dalam hal ini bagi warga yang diadvokasi Daniel dan Jan Van Den. Bagi kedua seniman ini, bahwa penciptaan karya seni semacam membangun ruang kesadaran bagi semua orang.
Hal itu menjadi konsentrasinya, sebab seni sepertinya menjadi acuan kesadaran kreativitas yang humanitas. Selamat mengapresiasi !. (Kang Amat)