Bandung, Prabunews.com – Keberadaan nama “Asep” yang berasal dari suku Sunda tercatat telah digunakan pada 594.984 kelahiran anak laki-laki, dikutip dari Forebears, namun seiring perjalanan waktu, penggunaan nama “Asep” sudah jarang disematkan orang tua kepada anak-anaknya. Daya tarik nama “Asep” untuk diberikan kepada anak laki-laki perlahan luntur. Zaman sudah berubah, begitu pula dengan tren pemberian nama bagi anak laki-laki masyarakat Sunda, sehingga banyak nama khas Sunda kini tak lagi jadi pilihan.
Nama “Asep” sendiri bagi orang Sunda merupakan warisan budaya, untuk itu KOMUNITAS ASEP ASEP merasa perlu melakukan ikhtiar untuk melestarikan nama “Asep”.
Sebagai salah satu langkah nyata untuk menjaga warisan budaya nama “Asep”, KOMUNITAS ASEP ASEP melalui Ketua Umum Alm. Asep Tutuy Turyana, S.Ag. pada tahun 2020 mendeklarasikan tanggal 4 September sebagai Hari Asep Internasional. Dengan dideklarasikan tanggal 4 September sebagai HARI ASEP INTERNASIONAL, diharapkan menjadi daya tarik penggunaan nama “Asep” disematkan orang tua kepada anak laki-lakinya sehingga nama “Asep” tetap lestari menjadi ciri khas orang Sunda, terutama di Jawa Barat.

Sejak dideklarasikan 5 tahun lalu, HARI ASEP INTERNASIONAL belum banyak masyarakat yang mengetahuinya. Untuk itu dalam momentum HARI ASEP INTERNASIONAL yang ke-5 tahun, KOMUNITAS ASEP ASEP mengadakan talkshow bersama RRI dengan mengundang Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Cece Sobarna, M. Hum. sebagai narasumber. KOMUNITAS ASEP ASEP yang diwakili oleh Sekjend DPP Asep Suwarman, A.Md. menyampaikan maksud diadakannya talkshow bersama RRI. “Harapannya HARI ASEP INTERNASIONAL tidak hanya diketahui oleh yang bernama “Asep” saja tetapi oleh semuanya, dan ke depan semakin banyak masyarakat yang tahu dan menyematkan nama “Asep” ke anak-anaknya.” Sementara Prof. Dr. Cece Sobarna, M. Hum. dalam paparannya menyampaikan terkait makna nama “Asep” .
“Nama “Asep” menjadi bagian identitas sebuah suku bangsa, tentu dengan adanya KOMUNITAS ASEP ASEP ini sebuah upaya untuk pelestarian budaya, dan secara tidak langsung kita bisa melihat bahwa dalam masyarakat Sunda masih ada yang ingin melestarikan terkait dengan nama “Asep”. (Red-kang Amat)