Bandung, Prabunews.com Hampir 500 orang menghadiri sebuah acara ritual adat pada pagi hari tadi (26/6).Mereka merupakan bagian dari perwakilan masyarakat adat yang ada di Nusantara.
Mereka secara bersama-sama melebur dalam sebuah kegiatan adat yang berorientasi untuk mengembalikan manusia agar memiliki sikap bijak terhadap alam semesta.
Ngertakeun Bumi Lamba 2022 digelar di Gunung Tangkuban Perahu merupakan sebuah acara masyarakat adat yang digelar tiap tahun.
Upacara ini sebagai sebuah bentuk kearifan masyarakat berhubungan dengan alam dan digelar bertepatan dengan perjalanan matahari yang baru mulai kembali dari paling utara bumi menuju selatan, yaitu setiap bulan kapitu (ke-7) dalam hitungan surya kala kalender Sunda.
Ginanjar Akil salah seorang Pemrakarsa kegiatan NBL mengatakan bahwa tujuan digelarnya kegiatan ini adalah sebagai upaya untuk mengajak masyarakat secara umum untuk senantiasa pandai mensyukuri apapun yang telah alam berikan kepada manusia, dari semua hasil bumi yang ada, baik di darat maupun di laut dan sejatinya kita harus konsisten menjaga kebaikan alam ini.
Bukankah bencana yang hadir di bumi dengan berbagai jenisnya adalah bagian dari perlakuan kita terhadap bumi ?, ungkap Ginanjar Akil.
Adapun rangkaian Prosesi NBL meliputi, Mipit Amit, Pembukaan oleh sesepuh adat dilingkungan Gunung Tangkuban Parahu & kolot dari kanekes (baduy luar), Sasadu ngaramatkeun (menyampaikan kecintaan terhadap leluhur), Rajah Bubuka (memohon keselamat dalam menjalankan, menegaskan tujuan, menyadari keberadaan diri, dan rasa terimakasih), Rajah Pamunah (memohon ampunan, meminta kebaikan), dan Seba saji ka kawah.
Dalam kegiatan NBL tersebut hadir ditempat sekitar 500 orang, termasuk perwakilan fisik, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Jawa Wetan.
Kita tentunya sangat berbangga dengan nilai-nilai leluhur bangsa ini yang senantiasa penuh dengan sikap kearifan baik ucap maupun langkah dan hal ini masih menjadi bagian dari gerak dan gaya hidup sebagian warga masyarakat yang menjungjung nilai luhur tersebut.
Harus diyakini bahwa upaya untuk menjauhkan bangsa ini dari nilai-nilai luhur budaya, adat dan ajaran akan tetap masif dilakukan karena dengan berhasilnya masyarakat dijauhkan dari nilai-nilai tersebut maka kekuatan dan pondasi kesatuan bangsa akan semakin rapuh. (Kang Amat)
