Bandung | Prabunews.com – Pada tahun ini, momentum Pabaru Sunda menjadi istimewa. Pergantian Tahun Pabaru 1 Kasa 1948 Saka Sunda bertepatan dengan 21 Desember 2025, momen titik balik Matahari (solstis) di belahan bumi selatan, sekaligus bersandingan dengan 1 Rajab 1447 Hijriah, salah satu bulan paling mulia dalam kalender Islam.
Pertemuan ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan perjumpaan simbolik antara waktu kosmik, waktu budaya, waktu batin, dan waktu etis-spiritual sebuah peristiwa yang dalam perspektif budaya Sunda dimaknai sebagai Rekonsiliasi Semesta.
Kalender sebagai Penanda Peradaban
Setiap peradaban besar mengenal sistem penanggalannya sendiri. Kalender bukan hanya alat teknis, melainkan bukti kecermatan intelektual dan kedalaman peradaban manusia dalam membaca ritme alam. Dalam tradisi Sunda, sistem penanggalan—khususnya Kalender Sunda Candra Kala (Caka)—merupakan warisan kosmologis yang telah tercatat sejak Prasasti Srijayabupati abad ke-11 Masehi.
Kalender Sunda memadukan Surya (matahari) dan Candra (bulan) sebagai dua ritme utama kehidupan. Surya melambangkan ketegasan, keteraturan, dan daya cipta; Candra melambangkan kelembutan, perenungan, dan dinamika batin. Ketika keduanya bertemu dalam satu momentum perubahan tahun, masyarakat Sunda menyebutnya sebagai mipit-amit—tanda rekonsiliasi antara terang dan teduh, antara gerak dan hening.
Solstis: Titik Balik Kosmik dan Kesadaran
Secara astronomis, solstis adalah saat Matahari mencapai deklinasi maksimum dan tampak “berhenti” sebelum berbalik arah. Namun dalam etnoastronomi Nusantara, solstis dibaca sebagai tanda kosmik yang mengundang manusia untuk menata ulang relasi dengan alam, sesama, dan diri sendiri.
Pada 21 Desember 2025, Surya mencapai titik paling selatan, menandai awal perjalanan naik kembali ke utara. Dalam Surya Kala Sunda, momen ini menandai Pabaru, lembar waktu baru. Bersamaan dengan itu, Candra memasuki awal Rajab, bulan mulia dalam Islam yang mengajarkan penyucian niat, kedamaian, dan kesiapan etis.
Pertemuan ini menghadirkan sinkronisasi antara perubahan kosmik dan transformasi moral.
Makna Spiritual Rekonsiliasi Semesta
Dalam banyak budaya, titik balik Matahari dimaknai sebagai simbol pencerahan, kelimpahan, dan kebangkitan. Cahaya mencapai puncaknya, lalu perlahan berkurang—mengajarkan keseimbangan antara ekspansi dan refleksi. Inilah waktu untuk bersyukur, menata niat, dan mengintegrasikan pertumbuhan batin.
Budaya Sunda membaca momen ini sebagai ajakan untuk:
- Ngindung ka Waktu (berakar pada ritme alam),
- Ngawula ka Jaman (peka terhadap perubahan),
- Ngamulyakeun Gusti (memuliakan Yang Maha Kuasa),
- Ngariksa Alam (menjaga semesta).
Rekonsiliasi semesta tidak berhenti pada simbol, tetapi menuntut laku hidup. Ia menjadi kerangka etis untuk merespons krisis multidimensi manusia modern, krisis ekologis, sosial, dan eksistensial. Relasi dominatif terhadap alam digantikan oleh harmoni; konflik dan polarisasi disadarkan pada keterhubungan semesta; keterasingan batin dipulihkan melalui kesadaran kosmik.
Penyatuan Empat Waktu
Solstis 21 Desember 2025 dapat dibaca sebagai titik temu empat dimensi waktu:
- Waktu kosmologis (gerak alam),
- Waktu kultural (identitas dan tradisi),
- Waktu psikologis (batin dan kesadaran),
- Waktu etis-spiritual (nilai dan laku).
Ketika keempatnya disadari secara bersamaan, manusia tidak hanya mengganti kalender, tetapi memulai kesadaran baru.
- Surya menyinari jalan untuk melangkah.
- Candra menenangkan hati agar langkah tetap jernih.
Di titik perubahan ini, Pabaru Sunda mengingatkan bahwa setiap akhir selalu mengandung awal baru, bahwa peradaban hanya dapat berlanjut bila manusia mau berbenah diri, merajut harmoni, dan berdamai kembali dengan semesta.
Miranda H. Wihardja
Bestdaya (Bengkel Studi Budaya)