Kab.Bandung, Prabunews.com – Berbagai gerakan kepedulian terhadap budaya lokal yang dilakukan oleh individu atau kelompok menjadi salah satu bukti nyata bahwa ternyata kecintaan akan budaya yang telah membesarkan seseorang atau kelompok masyarakat masih ada, sekalipun berada di ruang yang penuh distorsi.
Salah satu pegiat budaya yang selama ini aktif bergerak membumikan kepedulian terhadap budaya itu adalah Kang Iwan “Kuswanto” Dakh dengan Padepokan Pusaka Lembur yang dikelolanya.

Iwan Dakh mengatakan bahwa Kehadiran Padepokan Pusaka Lembur merupakan sebuah panggilan jiwa dalam upaya meningkatkan kecintaan terhadap budaya asli indonesia, meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya pada kearifan lokal, menumbuhkan kembali moral bangsa yang semakin terkikis oleh budaya luar, menjaga nilai-nilai leluhur budaya bangsa yang di sisipkan dalam seni tradisi, mengajarkan kembali seni budaya tradisi kepada regenerasi muda agar tidak punah, meningkatkan tali silaturahmi antar masyarakat, seniman, budayawan, alim ulama, aparat negara dan pemerintah.
Padepokan ini berdiri Tahun 2011, yang sebelumnya adalah LS. BUHUN SURYA MEDAL yang merupakan cikal bakal berdirinya Padepokan Pusaka Lembur hingga pada tahun 2017 serta terdaftar di Kemenhumkan. Sementara bangunan padepokannya sendiri berdiri pada tahun 2018.
Padepokan yang beralamat di Kampung Gumuruh, RT. 01/04 Desa. Nagrak kec. Cangkuang kab. Bandung ini memang secara konsisten terus melaksanakan berbagai kegiatan seni dan budaya.Untuk kegiatan seni diantaranya seni ormatan tarawangsa,Seni sora awi, Wayang golek, Reog, Kecapi suling, Rampak kendang dan Pencak silat buhun.
Sedangkan untuk kegiatan budaya diantaranya kegiatan Rebo wekasan, Kliwonan, Bukuning taun,1 suro, Mapag taun baru sunda, Netepkeun sangsaka dwi warna, Hajat huluwotan, Hajat lembur dan Ritual ngaruat.
Hampir semua pihak terlibat dalam pengelolaan padepokan ini baik Keluarga, masyarakat setempat, serta dari luar keluarga.
Dalam membumikan gerakan peduli pada nilai-nilai budaya lokal pun tidak terlepas dari yang namanya hambatan sangat lah sulit, karena perlu adanya daya dukung juga dari pemerintah dalam mensosialisasikan terhadap masyarakat umumnya. Apalagi seni buhun kami selalu di kait kaitkan bertentangan dengan Agama. Selalu di jadikan perbedaan antara buhun dan agama, ujar Iwan.

Perhatianpun menjadi barang yang sangat diperlukan, Perhatian pemerintah setempat tingkat desa, kabupaten dan provinsi saat ini hanya sebatas membatu dalam hal Administrasi saja. Untuk ke ranah perhatian dalam kemajuan dan pengembangan pergerakan Padepokan sampai saat ini belum.
Namun kami dapat perhatian dari BPNB jabar dan mendapatkan bantuan dari Kemendikbud melalui Direktorat jenderal kepercayaan terhadap Tuhan YME dalam bentuk program FKBM (Fasilitasi Komunitas Budaya Masyarakat) pada tahun 2018, lanjut Iwan
Selanjutnya, Iwan berharap adanya peran pemerintah terkait, lebih dalam dan lebih cerdik melihat menimbang dan mendukung apapun itu kearifan lokal, tanpa memandang dari sudut pandang agama manapun, karena itu bisa dianggap bersebrangan dengan Undang- Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ditandatangani Presiden karena menurutnya Kebudayaan telah menjadi akar dari pendidikan bangsa, oleh karena itu, Pemajuan Kebudayaan perlu menekankan pada perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh.
(Kang Amat)