Para Seniman Menyampaikan PESAN DARI LUMBUNG BUDAYA Babakan Siliwangi

Bandung, Prabunews.com – Berlokasi di Babakan Siliwangi, tepatnya di Sanggar Olah Seni, kini telah berdiri sebuah bangunan yang bernuansa putih dengan acuan bentuk Lumbung Padi.

Dalam kebudayaan Sunda lumbung padi itu disebut Leuit, yang fungsinya sebagai tempat penyimpanan padi dan sekaligus sebagai simbol ketahanan pangan.

Bangunan ini hasil merupakan hasil rancangan Asmujo Jono Irianto seniman dan dosen Senirupa ITB.

Bangunan itu kini telah hadir dengan anggun dan memberi isyarat sebagai bangunan yang tumbuh sebagai “Ruang Pencerahan”, Walaupun secara fisik bangunan ini belum selesai sempurna, namun terasa betul sudah mulai memancarkan auranya.

Bahkan kemarin terlihat sudah difungsikan sebagai lumbung penampungan sementara sembako yang bersumber dari bantuan pemprov Jabar, untuk dibagikan kepada para seniman yang terdampak pandemi berkepanjangan ini.

Tisna Sanjaya tokoh sekaligus Seniman mengatakan bahwa “Lumbung” ini tentu saja dimaksudkan sebagai simbol daripada Lumbung Budaya, yang mengambill peran sebagai ruang dialog yang bisa menampung berbagai gagasan. Dan tentu saja secara fungsional bisa menjadi ruang pamer karya seni.

Lebih jauh lagi ruang budaya ini bisa terus tumbuh menjadi “Lumbung Kemanusiaan”, tegas Tisna Sanjaya.

Tisna Sanjaya sebagai salah seorang penggagas dan penggerak mengatakan hal itu ditengah para pengurus dan anggota sanggar yang sedang kumpul seusai rapat.

Kemudian Tisna menjelaskan bahwa dibalik terwujudnya bangunan tersebut, ada sebuah proses yang memiliki makna penting, yaitu terbangunnya pula nilai dan makna solidaritas yang disertai militansi dari para seniman Bandung. Mereka adalah para seniman yang peduli dan memiliki tanggung jawab moral terhadap kebudayaan di kotanya. Bangunan ini disepakati diwujudkan dengan cara udunan.

Seniman udunan di masa serba sulit di jaman pandemi ini tentu memiliki nilai yang luar biasa. Itulah enerji kesenian, enerji yang muncul dalam suasana kontemplatif dalam menghadapi berbagai tekanan akibat wabah saat ini, ujarnya sambil menatap langit bada Magrib.

Bangunan ini berdiri tepat di bekas area bangunan utama SOS yang runtuh dimakan jaman. Keprihatinan dan empaty terhadap keruntuhan inilah yang membangkitkan solidaritas seniman yang hadir dari berbagai arah mata angin. Terpanggil, berkomitmen, berani mengambil resiko dan solid dalam membangun visi kebudayaan.

SOS/Sanggar Olah Seni – Babakan Siliwangi, memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni di Kota Bandung. Sanggar ini telah melahirkan banyak seniman ternama.

Selain menjadi ruang belajar kesenian, sanggar ini juga berfungsi sebagai ruang dialog warga dalam berbagai hal terkait kebudayaan dan lingkungan hidup. SOS saat ini dikomandani oleh Susentono Seno Art . Kepemimpinan disini periodik, dipilih secara demokrasi dalam jenjang waktu tertentu.

Kita ingat bahwa Babakan Siliwangi adalah Hutan Kota yang berfungsi sebagai paru paru kota Bandung, walaupun hanya 8% dari kebutuhan ideal. Karena itu harus benar benar dikawal bersama agar tidak diserobot lagi oleh para kapitalis dan aparat yang pendukungnya. Kita tahu prilaku itu muncul karena mereka memang tak memiliki akar sejarah dan tak punya keperdulian terhadap keseimbangan lingkungan hidup. Maklum dewa mereka adalah uang,.

Jadi untuk mempertahankan paru paru kota, sudah semestinya area ini dijadikan “cagar alam dan budaya ” dan harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah yang selanjutnya diberdayakan serta dirawat bersama.

Sudah seharusnya bahwa energi kolaborasi dan sinergitas semua element bangsa dibuktikan dengan cara dan kemasan yang mungkin berbeda namun menjadi semangat bahwa ruh kebersamaan dan gotong royong masih hadir di ruang-ruang kehidupan berbangsa dan bernegara. Sumber Amink D Rahman

(Kang Amat/Red)

Scroll to Top