Pemberdayaan Kader, RW 16 Kelurahan Utama Cimahi Selatan Maggotkan Sampah Organik

Bandung |Prabunews.com –  Sampah merupakan salah satu penyebab terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2024, timbulan sampah Kota Cimahi mencapai 231.96 ton/hari. Studi nasional dan data KLHK menyebutkan sekitar 40–41% timbulan sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik rumah tangga atau sisa makanan.

Menangani timbulan sampah organik dapat dilakukan melalui beberapa strategi pengelolaan yang ramah lingkungan dan bermanfaat secara ekonomi, salah satunya melalui budidaya maggot.

Tim Poltekkes Kemenkes Bandung dari Jurusan Promosi Kesehatan, Sanitasi Lingkungan dan Teknologi Laboratorium Medik, menggelar program pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Pendampingan Kader dalam Mengelola Sampah Organik Melalui Budidaya Maggot di RW 16 Kelurahan Utama, Cimahi Selatan”.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik melalui budidaya larva lalat Black Soldier Fly (maggot), sebagai solusi inovatif atas permasalahan penumpukan sampah rumah tangga yang kian membebani Kota Cimahi.
Solusi yang ditawarkan yaitu edukasi dan pelatihan keterampilan bagi kader RW 16 mengenai pengelolaan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi melalui budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly).

Maggot terbukti mampu mendegradasi sampah organik secara efisien serta bermanfaat sebagai sumber protein pakan ternak. Program ini juga mendukung target Cimahi menuju “Zero to Landfill” di tahun 2025, yaitu pengelolaan sampah mandiri tanpa ketergantungan TPA.

Kegiatan berlangsung dengan tahapan: sosialisasi, edukasi, pelatihan, pendampingan kader, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan sosialisasi dan edukasi dilakukan di Balai Pertemuan RW 16 pada hari Jum’at 22 Agustus 2025.

Budidaya maggot akan bekerjasama dengan kelompok wanita tani (KWT) dimana sudah terdapat budidaya lele, sehingga kegiatan dapat teritegrasi, maggot yang dihasilkan bisa jadi pakan lele. Dengan terwujudnya kader yang terampil dalam mengolah sampah organik, masyarakat RW 16 diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi, mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA, dan mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih sehat serta berkelanjutan. (Tati Ruhmawati-red)

Scroll to Top