
Penulis : Rahmat Suprihat, S.Pd – Pegiat Lingkungan/Guru SMPN 55 Kota Bandung
Permasalahan sampah menjadi sebuah cerita yang tidak ada akhirnya. Hal ini dikarenakan sampah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas masyarakat dalam kesehariannya.
Selain itu semakin bertambah jumlah penduduk maka kemungkinan besar jumlah sampah pun akan bertambah namun yang menjadi perhatian dan secara tidak langsung menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua adalah bagaimana sampah yang ada di sekitar kita, termasuk yang merupakan bagian dari produksi yang kita hasilkan dapat dikelola dengan baik.
Hal ini tentunya sangat beralasan karena pada saat jumlah sampah itu terus bertambah namun pengelolaannya jauh dari baik maka sampah itu tetap akan menjadi masalah karena harus dibuang sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Dan selama penyelesaian masalah sampah berujung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah maka banyaknya sampah akan menjadi beban bagi setiap pemerintah Kota atau Kabupaten.
Hal ini dikarenakan anggaran yang harus dialokasikan oleh setiap kota Kabupaten untuk mengelola sampah sampai membuangnya ke TPA tidaklah murah.
Memerlukan biaya yang cukup besar, mengingat mata rantai pembuangan sampah sampai ke TPA yang berawal dari pengangkutan sampah itu dari rumah ke TPS dan terakhir ke TPA tidaklah sederhana.
Ada Banyak anggaran yang harus dikeluarkan mulai dari biaya pengangkutan yang meliputi anggaran untuk membeli bahan bakar, perawatan kendaraan upah pegawai sampai pembayaran typing pi dari setiap tonase sampah yang dibuang ke TPA.
Salah satu ruang diharapkan dapat berkontribusi dalam rangka menghadirkan budaya pengolahan sampah adalah ruang pendidikan dimulai mulai dari SD, SMP, SMA/SMK bahkan perguruan tinggi.
Hal ini sangat beralasan mengingat sampai saat ini di setiap Kota/Kabupaten sudah banyak sekolah yang memiliki label Sekolah Adiwiyata.

Sekolah Adiwiyata merupakan sebuah apresiasi yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada sekolah dan segenap entitas pendidikannya yang memiliki komitmen dan konsistensi membangun warganya untuk benar-benar memiliki budaya peduli dan cinta lingkungan.
Setiap warga sekolah yang ada di Sekolah Adiwiyata sudah sangat memahami betul bagaimana menjadikan dirinya untuk memiliki nilai-nilai pendidikan karakter kepedulian terhadap lingkungan termasuk diantaranya tentang bagaimana setiap warga sekolah menjadi solusi atas permasalahan lingkungan yang hadir baik itu di sekolah ataupun di lingkungan masyarakat.
Dengan pendidikan karakter peduli dan cinta terhadap lingkungan yang diaplikasikan semua warga sekolah terutama peserta didik diharapkan nilai-nilai pendidikan karakter baik itu dapat terbawa dalam kebiasan keseharian peserta didik yang tertularkan kepada keluarga maupun masyarakat di mana peserta didik itu berada.
Artinya setiap peserta didik yang memiliki nilai pendidikan karakter peduli dan cinta lingkungan dapat menjadi katalisator bagi hadirnya komunitas masyarakat yang benar-benar memiliki kepekaan terhadap permasalahan lingkungan.
Selain itu penularan nilai-nilai baik itu sampai menghadirkan komunitas masyarakat yang menjadikan dirinya sebagai bagian dari solusi.
Dengan adanya estafet edukasi sosialisasi dan virus-virus kebaikan tentang kepedulian lingkungan oleh peserta didik maka akan semakin mempercepat hadirnya kesadaran masyarakat secara luas tentang bagaimana seharusnya masyarakat itu mengelola sampah dimulai dari rumah masing-masing.
Setiap siswa yang hadir di setiap sekolah merupakan bagian dari komunitas masyarakat dalam hal ini keluarga dan kenyataannya permasalahan sampah berawal dari keluarga itu sendiri.
Sehingga manakala peserta didik itu memiliki kecakapan ekologis yang tinggi diharapkan perubahan budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat akan akan tidak sulit terealisasikan.
Yang jadi pertanyaannya sudah sejauh mana keberadaan Sekolah Adiwiyata di setiap Kota/Kabupaten menjadi bagian dari solusi permasalahan sampah yang ada di Kota/Kabupaten itu sendiri.
Sejatinya keberadaan Sekolah Adiwiyata yang menjadi kebanggaan bagi warga sekolahnya menjadi bagian dari pusaran solusi atas permasalahan sampah yang dihadapi oleh kota/Kabupaten virus-virus kebaikan yang ada di sekolah itu.
Setiap peserta didik dari Sekolah Adiwiyata idealnya menjadi agen-agen perubahan kebaikan dalam rangka pembangunan budaya pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkungan keluarga, yang wawasannya sudah dibekali di setiap sekolah dimana peserta didik itu belajar terutama di Sekolah Adiwiyata.
Sehingga pada akhirnya piagam dan tropi apresiasi Sekolah Adiwiyata menjadi bentuk nyata dari kebermaknaan kinerja sekolah bagi lingkungan masyarakat.