Perkuliahan Daring, Efektif Gak Sih Buat Mahasiswa?

Prabunews.com – Pandemi Covid-19 telah mengubah semua aktivitas kehidupan sehari-hari. Hampir semua aktivitas dilakukan secara online, mengingat adanya larangan keluar rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Demikian pula konsep Pendidikan.

Mulanya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, namun saat ini beralih konsep dengan menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial. Peralihan konsep itu dirasa sangat membosankan bagi sebagian besar mahasiswa Universitas Islam Majapahit (Unim). Hal tersebut terungkap dalam curhatan mahasiswa saat belajar daring.

Banyak mahasiswa mulai mengeluhkan soal proses perkulihan yang dilakukan secara daring. Seperti mulai merasa bosan, banyaknya tugas yang diberikan dosen dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan teman-teman. Selain itu, adanya kuliah tatap muka lebih membantu mereka untuk bisa memahami ilmu secara efektif

“Saya kebingungan apabila mendapat tugas dari dosen, karena semua dosen kasih tugas dan tugasnya itu sangat banyak, ada dosen yang kasih tugas membuat video, ada yang suruh meringkas buku, ada juga dosen yang menyuruh kita mengisi soal soal pertanyaan,” keluh Rudi Prasetiyo, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unim.

Ia juga menambahkan, hal yang lebih membingungkan lagi, kadang-kadang tugas diberikan sudah melebihi kapasitas. “Belum siap tugas yang satu, saya sudah mendapatkan tugas yang lain, itu belum lagi tugas saya di rumah. Di rumah, saya harus disiplin membagi waktu antara membuat tugas perkuliahan dan bekerja,” tandasnya.

Berbeda dengan teman sekelasnya, Selfiana Agesti justru lebih mengeluhkan soal sinyal internet yang tidak stabil ketika sedang mengikuti perkuliahan secara daring, sehingga banyak materi yang tidak dipahaminya akibat terputusnya jaringan internet.

“Tempat saya agak susah sinyal, makanya banyak meteri kadang-kadang tidak jelas, tambah lagi saya harus menyediakan kuota tiap harinya, kadang saya membeli kuota tiap minggu, kadang juga tiap hari, karena kuliah online itu memakan kuota lumayan banyak dan kami mahasiswa harus meminta uang kepada orang tua” terangnya

Di sisi lain, Ricki Suhermawan, yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi mengatakan, kuliah daring ada kalanya sangat menyenangkan dan kadang sangat membosankan. Karena menurutnya, kuliah online yang tidak mengharuskan bertatap muka secara langsung itu membuatnya sedikit lebih rileks dalam belajar.

“Saya tidak perlu memakai baju yang rapi dan duduk tegak mendengarkan materi yang dosen berikan. Namun yang kurang menyenangkan yaitu terkadang dalam kemudahan belajar online terasa sulit dikarenakan susah mengakses e-learning yang disebabkan susahnya jaringan dan servernya yang down. Tugas juga terasa lebih banyak diberikan sehingga saya sedikit repot mengerjakannya,” ungkapnya.

Sedangkan Nerissa Dwi Arviana, mahasiswa Manajemen, Unim, mengungkapkan bahwa selama pandemi Covid-19, dirinya merasa perkuliahan daring kurang efektif dilakukan. Banyak jadwal kuliah yang tidak sesuai, bahkan hari libur pun dirinya harus mengikuti perkuliahan yang dilakukan oleh sebagian dosen.

“Sudah dua tahun perkuliahan daring ini berjalan, tapi saya merasa hal ini justru membuat kami para mahasiswa merasa tertekan. Tugas yang terus dikasih dosen, tetapi dalam pembelajarannya hanya sedikit yang dapat kami ketahui, sehingga ketika mengerjakan tugas kami cukup kesulitan menyelesaikannya,” keluh Nerissa.

Tak hanya itu, segi kuota internet pun menjadi masalah. Perkuliahan daring memanfaatkan beberapa aplikasi yang membutuhkan banyak kuota, Seperti saat melakukan Zoom Meeting yang dapat menghabiskan 1,5 GB lebih untuk satu mata kuliah.

“Bayangkan jika dalam satu minggu semua mata kuliah melakukan meeting pasti sangat sangatlah boros pemakaian kuota internet. Harapan saya semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan kami dapat kembali melakukan perkuliahan tatap muka yang lebih efektif dan efisien,” tandas Nerissa.

Dalam beberapa diskusi, banyak pemerhati pendidikan menilai kuliah daring memang tidak efektif, disamping banyaknya biaya yang dikeluarkan mahasiswa. Melihat kondisi pandemi Covid-19 yang menghentikan kuliah tatap muka sementara waktu, pil pahit ini harus ditelan bersama. Tak hanya bagi mahasiswa, dosen pun tidak punya banyak pilihan.

(Ilham Asdika Surya Permana)

Scroll to Top