Bandung, Prabunews.com – Persib Bandung asuhan Robert Alberts selangkah lagi menorehkan sejarah baru di Liga Indonesia. Selain mengejar rekor poin terbaik Persib selama era kompetisi penuh milik Persib asuhan Jaya Hartono. Persib asuhan Robert Alberts juga misi berat membawa gelar juara Liga Indonesia untuk pertama kalinya pada era kompetisi penuh ini.
Paceklik Gelar Juara
Persib Bandung punya prestasi kurang mentereng selama Liga Indonesia dengan sistem kompetisi penuh. Sepanjang Liga Indonesia dengan sistem kompetisi penuh, Persib Bandung belum pernah menjadi juara. Prestasi terbaik Persib Bandung hanya menjadi peringkat ketiga di Liga Super Indonesia musim 2008/2009 lalu.
Kala itu, Persib Bandung asuhan Jaya Hartono, gagal menahan laju Persipura Jayapura yang dominan. Persib pun kalah bersaing dengan Persiwa Wamena yang menempati peringkat kedua. Persib Bandung akhirnya gagal tampil di kompetisi Asia (Liga Champions Asia atau Piala AFC) karena jatah Indonesia hanya 2 tiket.
Mengingat kembali sejarah Persib dalam era kompetisi penuh, Persib lebih banyak berkutat di papan tengah. Pertama kali Persib tampil dalam era kompetisi penuh di tahun 2003, Persib bahkan hampir terdegradasi. Persib hanya bisa berada di peringkat ke-16 dengan 45 poin.
Untungnya, Persib bisa lolos dari jeratan degradasi paska tampil di babak playoff degradasi. Kala itu, Persik Kediri sukses menjadi juara Liga Indonesia 2003. Ironis karena Persib untuk pertama kalinya memakai jasa pemain asing setelah sebelumnya teguh dengan pemain lokal.
Masuk Liga Indonesia tahun 2004, Persib hanya berkutat di papan tengah. Persib Bandung hanya bisa berada di peringkat keenam dengan 49 poin. Gelar juara direbut oleh Persebaya Surabaya yang menang atas Persija Jakarta di laga terakhir kompetisi.
Setelah tahun 2004 tadi, PSSI kembali menerapkan sistem wilayah pada medio 2005 hingga 2007. Sistem kompetisi penuh baru kembali diterapkan pada era Liga Super Indonesia. Bisa dibilang, ini adalah era kebangkitan Persib di sepak bola Indonesia.
Persib Bandung pada era Liga Super Indonesia musim 2008/2009 bisa bersaing di perebutan titel juara. Bersama Persipura dan Persiwa Wamena, Persib Bandung terus bersaing di papan atas klasemen. Asa menjadi juara sempat muncul di sepanjang kompetisi.
Namun, di akhir kompetisi, Persib hanya berada di peringkat ketiga dengan 66 poin. Persipura Jayapura menjadi juara dengan 80 poin. Selain gagal menjadi juara, Persib pun harus melepaskan tiket ke kompetisi Asia karena posisi kedua direbut oleh Persiwa Wamena.
Masuk Liga Super Indonesia musim 2009/2010, Persib Bandung tetap masuk persaingan gelar juara. Namun, Persib kembali gagal menjadi juara. Persib hanya bisa berada di peringkat keempat dengan 53 poin. Gelar juara direbut oleh Arema Indonesia dengan 73 poin.
Prestasi Persib menurun pada musim 2011/2012. Pemilihan pelatih dan pemain yang kurang tepat, membuat Persib keluar dari zona 5 besar. Persib hanya bisa berada di peringkat ke-8 dengan 49 poin. Gelar juara di musim 2011/2012 direbut oleh Sriwijaya FC dengan 79 poin.
Masuk Liga Super Indonesia musim 2013, Persib datang dengan persiapan lebih baik. Di bawah pelatih yang pernah membela Persib, Djadjang Nurdjaman, Maung Bandung (julukan Persib Bandung) kembali masuk dalam persaingan gelar juara. Pemain bintang macam Firman Utina, Made Wirawan hingga Sergio Van Dijk, berlabuh dengan Persib Bandung.
Hanya saja, Persib masih gagal menjadi juara. Pada akhir kompetisi, Persib hanya hanya berada di posisi keempat dengan 63 poin. Gelar juara untuk kali keempat, direbut oleh Persipura Jayapura dengan 82 poin.
Liga Super Indonesia musim 2014 kembali menerapkan sistem 2 wilayah. Berbekal skuad tahun 2013 dengan penambahan beberapa pemain baru, termasuk Ferdinand Sinaga, Persib Bandung sukses menjadi juara. Pada babak final, Persib menang atas Persipura Jayapura melalui babak adu penalti.
Akibat sanksi FIFA, selama tahun 2015 hingga 2016, kompetisi dihentikan. Meski ada gelaran Indonesia Soccer Championship, ajang tadi tak diakui oleh FIFA.
Pasca sanksi FIFA dicabut di tahun 2016, PSSI kembali menggelar kompetisi resmi di tahun 2017. Berubah nama, kompetisi kasta tertinggi bertitel Liga 1. Sama seperti Liga Super Indonesia, gelaran Liga 1 memakai sistem kompetisi penuh.
Prestasi Persib selama era Liga 1 ini, cenderung turun naik. Musim perdana pada Liga 1 di tahun 2017, Persib bahkan hampir masuk zona degradasi. Meski bertabur bintang, Persib hanya bisa berada di posisi ke-13 dengan 41 poin. Persib hanya unggul 6 poin dari klub yang ada di zona degradasi, Semen Padang.
Raihan 41 poin ini, menjadi yang terendah selama Persib ikut dalam format kompetisi penuh. Pada akhir kompetisi, gelar juara menjadi milik Bhayangkara FC dengan 68 poin. Kegagalan di tahun 2017 ini, memberikan banyak pelajaran berharga bagi Persib menghadapi musim baru.
Persib Bandung berbenah total di musim 2018. Mendatangkan pelatih sekelas Mario Gomez, Persib tampil percaya di putaran pertama Liga 1 2018. Persib sukses menjadi juara paruh musim.
Namun, nasib Persib ‘apes’ di putaran kedua. Sempat meminpin hingga pekan ke-24, permainan Persib menurun dalam 10 pertandingan terakhir. Persib pun hanya bisa berada di peringkat keempat dengan 52 poin. Gelar juara “direbut” Persija Jakarta dengan 62 poin.
Seperti mengulang Liga Super Indonesia 2011/2012, Persib memulai Liga 1 musim 2019 dengan kurang baik. Pergantian pelatih terjadi menjelang kompetisi dimulai. Setelah Miljan Radovic mundur, kursi pelatih ditangani oleh Robert Alberts.
Persib hanya bisa bersaing di papan tengah. Meski terjadi perombakan di tengah musim, Persib hanya berada di posisi keenam klasemen akhir Liga 1 musim 2019 dengan 51 poin. Titel juara direbut oleh Bali United dengan mengumpulkan 64 poin.
‘Selangkah’ Lagi Pecahkan Rekor
Dampak pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan dunia, membuat Liga 1 musim 2020 dibatalkan. Setelah terhenti 500 hari lebih, Liga 1 baru kembali bergulir pada pertengahan tahun 2021. Bertajuk BRI Liga 1 musim 2021/2022, gelaran kompetisi ini lebih ketat dari yang sebelumnya.
Persib Bandung bersama 4 klub lain di papan atas (Bali United, Arema FC, Persebaya Surabaya dan Bhayangkara FC), bersaing ketat untuk menjadi juara. Hingga masuk pekan ke-30, kelima tim tadi memiliki selisih poin yang tak berbeda jauh di papan klasemen. Kelima tim tadi bergiliran berada di puncak klasemen Liga 1 musim 2021/2022.
Tampil konsisten, Persib hampir tidak pernah keluar dari zona 5 benar. Torehan 63 poin setelah 30 laga, membuat Persib Bandung hampir memecahkan 2 (dua) rekor di sepanjang keikutsertaan Persib dalam sistem kompetisi penuh Liga Indonesia.
Rekor pertama adalah jumlah poin Persib dalam sistem kompetisi penuh. Persib Bandung asuhan Robert Alberts hanya terpaut 3 poin dari rekor poin terbanyak milik Persib asuhan Jaya Hartono (66 poin). Melihat 4 laga sisa di musim ini, jumlah poin ini kemungkinan bisa dipecahkan pada akhir kompetisi.
Rekor kedua, dan lebih penting adalah gelar juara Liga 1. Persib Bandung sepanjang sejarah Liga Indonesia, hanya bisa menjadi juara dengan sistem wilayah (1995 dan 2014). Musim ini menjadi kesempatan terbaik Persib Bandung untuk memecahkan rekor ini.
Melihat pesaing terdekat Bali United dengan 63 poin (29 pertandingan), Persib Bandung punya kans besar. Skuad Persib Bandung pun terbilang mumpuni untuk meraih gelar juara. Kuncinya, Persib harus bisa memenangkan semua laga dalam 4 laga terakhir di musim ini. Bisakah Persib menciptakan sejarah baru di Liga 1 musim ini? Semoga saja.
(RED)