Prabunews.com – Miliarder Rusia, Roman Abramovich mengalami gejala dugaan keracunan setelah pertemuan di Kyiv pada awal Maret. Hal tersebut terjadi di tengah upayanya mendamaikan perang Rusia dan Ukraina.
Peristiwa itu pertama kali diungkap Wall Street Journal dan Bellingcat.
Sekedar informasi, Bellingcat adalah kelompok jurnalisme investigasi berbasis di Belanda yang mengkhususkan diri dalam pengecekan fakta dan intelijen sumber terbuka.
Sebelumnya, Abramovich sempat memediasi Rusia dan Ukraina pada 3 Maret lalu. Ini sejalan dengan permintaan Ukraina 28 Februari untuk mendamaikan dua negara.
Namun tak lama setelahnya, ia mengalami sejumlah gejala tak biasa, seperti mata merah, robekan terus-menerus, serta kulit mengelupas di wajah dan tangan.
Tak hanya Abramovich, hal itu juga dialami anggota parlemen Ukraina lain yang hadir, yakni Rustem Umerov dan seorang negosiator lain.
“Abramovich dan negosiator Ukraina, termasuk anggota parlemen Tatar Krimea Umerov, telah membaik dan hidup mereka tidak dalam bahaya,” lapor Wall Street Journal, Senin (28/3/2022).
“Gejala tak mematikan.”
Belum jelas siapa dalang dibalik insiden keracunan ini. Sebuah teori menyebutkan bahwa kelompok garis keras Rusia yang tak ingin perdamaian merupakan dalang dari aksi ini.
Sementara itu, juru bicara Abramovich hingga saat ini masih bungkam. “Tidak ada komentar,” katanya ke media.
Di sisi lain, untuk mencegah potensi insiden, Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba telah meminta delegasi untuk tidak mengkonsumsi apapun selama melakukan dialog antara kedua negara.
“Saya menyarankan siapa pun yang akan bernegosiasi dengan Rusia untuk tidak makan atau minum apa pun, (dan) sebaiknya menghindari menyentuh permukaan,” tegasnya.
Abramovich sendiri juga jadi sasaran sanksi oleh pemerintah Inggris setelah operasi militer Rusia ke Ukraina. Di Inggris ia memiliki klub speak bola Chelsea.