Seminar Kesehatan tentang Pencegahan Stunting Pada Masa Kehamilan dan Kedaruratan.

 

Jembrana,Prabunews.com- – Bertempat di Aula Polres Jembrana, Sabtu (11/3/2023) pukul 09.00 Wita telah dilaksanakan Acara Seminar Kesehatan tentang Pencegahan Stunting Pada Masa Kehamilan dan Kedaruratan.

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh Kapolres Jembrana AKBP I Dewa Gde Juliana, S.H., S.I.K., M.I.K., Waka Polres Jembrana Kompol Losa Lusiano Araujo, S.I.K., Ketua Pengurus YKB Cabang Jembrana Ny. Ayu Dewa Juliana, Narasumber Stunting dan Kedaruratan Kejang pada anak dr. Ryna Harlystianti, Sp.A., Narasumber Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan dr. I Ketut Rai Wiwa Negara, Sp.OG., Moderator Seminar dr. Ni Komang Sri Wersita Dewi, S.Ked., Pengurus Cabang dan Ranting Bhayangkari Cabang Jembrana, serta para peserta Seminar Kesehatan.

Kapolres Jembrana pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa program ini merupakan rangkaian HUT Yayasan Kemala Bhayangkari ke-43 Tahun 2023.

“Kita berharap agar kasus stunting di Kab. Jembrana tidak ada, mengingat di Bali kasus stunting paling sedikit di Indonesia. Mudah-mudahan nanti seminar ini menjadi pembekalan atau ilmu tambahan kepada para orang tua atau calon anggota yang akan menikah,” ucap Kapolres.

Lanjutnya menyampaikan bahwa kasus stunting itu tidak mengenal kaya atau miskin tetapi tentang asupan gizi kepada anak, pada 1000 hari pertama itu menentukan apakah anak itu mengalami stunting atau tidak, jadinya buat para orang tua atau yang akan program mempunyai keturunan agar bisa mempersiapkan diri dalam menciptakan generasi emas kedepannya.

“Lenapa Polri ikut berperan dalam kasus stunting, mengingat dampak kedepannya yang diakibatkan seperti timbulnya aksi kejahatan mengingat kurangnya wawasan dari seorang anak,” terang Kapolres Dewa Juliana.

Kemudian dr. Ryna Harlystianti, Sp.A. memberikan materi paparan mengenai stunting dan Kedaruratan Kejang pada anak. Deteksi dini, diagnosis dan rujukan stunting. Indikator Antropometri untuk menentukan diagnosis masalah gizi tercantum dalam PMK No. 2 Tahun 2020.

Lanjut dr. Ryna Harlystianti, Sp.A. menyampaikan bahwa stunting adalah kondisi dimana tinggi badan seorang anak lebih pendek dari anak normal lainya karena kekurangan gizi.

“Penyebab dan faktor risiko stunting : 1). Penyebab primer seperti kekurangan makanan atau gizi, tidak tahu memberikan makanan yang benar, 2). Sekunder adanya penyakit yang mendasari, 3). Faktor risiko seperti sosial ekonomi, pendidikan, higiene sanitasi, dan layanan kesehatan,” jelasnya.

Periode terjadinya stunting yaitu 1). Periode 1000 HPK, 70 % terjadi pada periode ini, 2). Periode 2-5 tahun, 30% terjadi pada periode ini. Dampak negatif stunting/bahaya stunting : 1). Kecerdasan yang rendah, 2). Kekebalan tubuh rendah, 3). Munculnya berbagai penyakit.

Lebih lanjut dijelaskan lebih dalam lagi bahwa deteksi dini dan identifikasi resiko : 1). Akibat kurang gizi adalah tinggi badan kemudian panjang badan, 2). Sejak 1000 HPK , dalam kandungan, + usia 2 tahun pertama, 3). Interval setiap bulan, 4). Indikator antropometri BB atau usia mendeteksi gagal tumbuh, sebelum menjadi gizi buruk, 5). Kriteria gagal tumbuh BB/U < 2 SD, Gagal tumbuh yang berlangsung dalam 3 bulan akan menjadi gizi buruk, gagal tumbuh yang berlangsung lebih dari 3 bulan akan menjadi stunting.

Namun hal tersebut bisa dilakukan pencegahan yaitu dengan langkah 1). Primer : evaluasi tehnik menyusui dan perbaiki kualitas MPASI, 2). Sekunder : cegah penyakit dengan imunisasi, obati penyakit yang mendasari. 

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab materi stunting dan kedaruratan kejang pada anak. Dan dilanjutkan dengan penyerahan souvenir kepada dr. Ryna Harlystianti, Sp.A. oleh Kapolres Jembrana beserta Ketua Pengurus YKB Cabang Jembrana.

Kemudian dilanjutkan dengan acara dari tim HDI Cabang Jembrana, dimana dari tim mengenalkan produk-produk dari HDI, memberikan pengetahuan manfaat dari setiap produk dari HDI, penyampaian materi dari dr. I Ketut Rai Wiwa Negara, Sp. OG. mengenai pencegahan stunting sejak kehamilan.

Dikutip kembali bahwa stunting adalah kondisi dimana tinggi badan seorang anak lebih pendek dari anak normal lainya karena kekurangan gizi. Etologi menurut WHO (2013) stunting disebabkan karena beberapa faktor : 1). Faktor rumah tangga dan keluarga, 2). Ketidakcukupan kelengkapan pangan.

Dijelaskan oleh Tim HDI bahwa dampak stunting mengakibatkan perkembangan otak anak menjadi berkurang. Dan ada dampak stunting lanjutan : 1). Dalam jangka pendek terganggunya tumbuh kembang anak, 2). Jangka panjang menurunnya kemampuan kognitif, prestasi belajar dan timbulnya berbagai penyakit. 

Dalam penjelasannya, HDI menyampaikan bahwa kondisi stunting di Indonesia tahun 2021 Bali, DKI Jakarta, dan DIY Yogyakarta menjadi provinsi terendah kasus stunting. Angka stunting di Bali 8 % terbaik di Indonesia.

Cara pencegahan stunting : 1). Pemenuhan gizi dari sebelum dan selama kehamilan, 2). Penanganan kelahiran di lakukan oleh Dokter atau tenaga medis yang terlatih, 3). Selain Asi selama 6 bulan diberikan MPASI dan vitamin, 4). Kecukupan gizi anak balita pada usia 1000 hari pertama kelahiran (HPK), 5). Periode emas yaitu saat anak masih dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Pentingnya asupan makanan pada masa mempersiapkan kehamilan.

Dampak ibu hamil bila kekurangan nutrisi : 1). Kecacatan, 2). Kematian bayi dan balita, 3). Kretinisme, 4). Resiko infeksi, dan 5). Resiko IUFG, BBLR dan prematuritas.

Pentingnya asupan nutrisi pada ibu hamil, merupakan satu-satunya nutrisi bagi bayi di dalam kandungan, mencegah turunnya gizi pada ibu. Penurunan angka stunting dapat di mulai dari sejak bayi dalam kandungan (F1000 HPK), pemeriksaan secara teratur ke fasilitas kesehatan sangat di perlukan, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

Sebelum mengakhiri seminar dilakukan sesi tanya jawab, dan ditutup dengan penyerahan souvenir kepada dr. I Ketut Rai Wiwa Negara, Sp.OG. oleh Ketua Pengurus YKB Cabang Jembrana Ny. Ayu Dewa Juliana yang didampingi oleh Kapolres Jembrana AKBP I Dewa Gde Juliana,. S.H., S.I.K., M.I.K. dan foto bersama, serta pembagian door prize kepada peserta seminar.

 

(Hms Jbr)

Scroll to Top