Prabunews.com – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa Ukraina siap menjadi negara netral dan non-nuklir. ini merupakan salah satu dari usahanya menciptakan perdamaian di antarnegara.
Zelensky mengatakan pernyataan tersebut menjelang dialog dengan Rusia yang akan dimulai Senin (28/3/2022).
“Jaminan keamanan dan status netral, non-nuklir dari negara kami. Kami siap menerima ini. Ini merupakan poin yang paling penting,” kata Zelensky dalam kepada jurnalis independen Rusia, Minggu (27/3/2022).
Ia pun mengatakan, netralitas lah yang menjadi alasan yang Rusia menyerang Ukraina. Rusia khawatir Ukraina akan masuk aliansi pertahanan NATO pimpinan Amerika Serikat (AS).
Atas hal itu, Moskow mendesak Ukraina untuk menyandang status netral, atau tak terikat dengan aliansi pertahanan asing atau barat.
“Ini merupakan poin prinsip pertama dari Federasi Rusia seingat saya. Dan sejauh yang saya ingat, mereka memulai perang karena ini.”
Selain itu, Rusia juga khawatir Ukraina mengembangkan senjata nuklir. Ukraina sendiri sebenarnya sudah tak memiliki senjata nuklir sejak lama.
Namun, Rusia mengingkan adanya kepastian hitam di atas putih. Kini, Zelensky pun menyatakan bahwa Ukraina siap mendeklarasikan status negara non-nuklir.
Meski demikian, Zelensky menekankan bahwa kesepakatan apa pun harus diajukan kepada warga Ukraina dalam sebuah referendum.
“Jadi klausul ini adalah jaminan keamanan bagi Ukraina. Sejak mereka mengatakan itu [jaminan keamanan] untuk mereka juga, ini cukup dimengerti bagi saya, dan kini tengah didiskusikan,” katanya.
“Ini masalah mendalam, tetapi saya ingin memastikan itu [jaminan keamanan] bukan hanya berbentuk selembar kertas. Jadi kami ingin mengubah kertas tersebut menjadi perjanjian serius untuk ditandatangani.
Sementara terkait wilayah Donbass dan Krimea, Zelensky mengatakan masalah itu bisa di diskusikan. Ia yakin ada penyelesaian lewat pembicaraan damai.
Sebelumnya, Rusia dan Ukraina direncankan akan kembali bernegosiasi di Turki mengenai gencatan senjata pada Selasa nanti.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sudah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin soal itu.