Prabunews.com – Kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia terus terjadi beberapa hari terakhir. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan faktor ini bisa menjadi indikator untuk gelombang tiga pandemi Covid-19.
Meskipun begitu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi menyatakan Indonesia sebenarnya belum memasuki gelombang 3 Covid-19.
“Apakah kita sudah masuk gelombang ketiga atau tidak pasti akan ada informasi resmi dari pemerintah terkait ini. Tapi potensi kita memasuki gelombang ketiga itu ada jika melihat penambahan kasus yang cukup signifikan dalam 10 hari terakhir ini,” katanya saat on air di radio PRFM 107,5.
Penetapan Indonesia memasuki gelombang ketiga atau tidak, lanjut Nadia, harus berdasarkan indikator pada kurva epidemic.
Nantinya grafik pada kurva epidemic itu menjadi acuan apakah Indonesia memasuki gelombang ketiga atau tidak.
“Kita harus evaluasi lebih lanjut sesusai dengan indikator yang kita sebut kurva epidemi yang kemudian bisa menjadi suatu prediksi kita sudah masuk gelombang ketiga atau tidak,” paparnya
Dia juga menambahkan pihaknya terus melakukan monitor mengenai peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia mengingat penambahan kasus selama 10 hari terakhir.
“Kita terus monitor tentang hal ini karena peningkatan kasus baru sekitar 10 hari terjadi,” kata Siti Nadia.
Sebagai informasi, selama satu minggu terakhir kasus Covid-19 harian terus mengalami kenaikan, seperti pada Selasa kemarin angkanya mencapai 16.021 kasus.
Angka tersebut naik dari 10.185 kasus pada 31 Januari 2021. Dalam sepekan terakhir hanya pada tanggal 31 Januari 2021 mengalami penurunan dari hari sebelumnya yakni 12.422 kasus.
Saat ini Indonesia juga harus menghadapi kasus Omicron yang juga mengalami peningkatan. Bahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan penularan varian ini tinggi sekali dan Indonesia akan mengalami puncak kasus.
Dia memperkirakan puncak kasus tersebut bakal terjadi pada akhir Februari mendatang. Selain itu, masyarakat harus tetap waspada terkait kasus Omicron.
Sebab di negara lain menunjukkan, tren kasus Omicron memiliki jumlah yang lebih tinggi daripada saat Delta menyerang tahun lalu.
“Kita masih belum tahu berapa jumlahnya pada saat puncak kasus akan terjadi di Indonesia. Perkiraan kami puncak akan terjadi di akhir Februari,” kata Budi.