Wayang Golek dalam Perspektif Ekonomi Kreatif

Bila membicarakan kesenian di tanah sunda ,maka tidak akan terlepas mengenai seni wayang golek. Wayang golek tidak hanya sebagai warisan kebudayaan yang memuat kandungan pendidikan moral , agama dan fungsi hiburan untuk masyarakat di sekitarnya tetapi juga wayang golek menjadi alternatif perekonomian sejumlah masyarakat.

Di era industri kreatif kini, wayang golek hadir tidak hanya sebagai seni pertunjukan yang hanya menghasilkan hiburan semata tetapi juga kini hadir dalam bentuk industri ekonomi kreatif. Menurut Valentine Siagian, dkk, dalam buku Ekonomi dan Bisnis Indonesia (2020), ekonomi kreatif merupakan proses penciptaan, kegiatan produksi dan distribusi barang serta jasa, yang dalam prosesnya membutuhkan kreativitas dan kemampuan intelektual.

Mungkin dulu untuk menyaksikan wayang golek diperlukan semalam suntuk, kini wayang golek dapat dinikmati kapan saja dan dimana saja. Management sanggar wayang golek kini berkembang dengan memasarkan seni wayang golek di platform youtube , live istargram dan bahkan adapula sejumlah radio yang memutarkan audio pertunjukan wayang golek.

Dalam proses distibusi wayang golek telah mampu bersaing dalam dunia industri kreatif  seperti yang telah dilakukan oleh PGH 3 Channel yang merupakan management dari Grup wayang golek Giri Harja yang telah menembus 334 rb Subscribe. Dengan memanfaatkan perkembangan media para seniman dituntut untuk lebih inovatif dalam mengemas pertunjukannya.

Selain dari bentuk distrubusi, proses penciptaan pertunjukannya pun wayang golek kini jauh lebih modern didorong dengan nayaga yang bukan hanya professional di bidangnya tetapi juga mempunyai latar belakang pendidikan yang relavan. Selain jam terbang yang mumpuni setiap aspek dalam pertunjukan wayang  golek telah mengalami perkembangan.

Begitu pula dengan kehadiran dalang sebagai sutradara, pengarang lakon , dan aktor dalam pertunjukan wayang golek tentunya dituntut untuk menciptakan inovasi , kreatifitas serta harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Maka tidak heran kini banyak pertunjukan wayang golek yang menghadirkan lakon carangan dengan gendre modern.

Lalu muncul pertanyaan, apakah wayang golek kehilangan nilai sakral dalam pertunjukannya ?  pergeseran sakral menjadi profan tentu diraskan tetapi juga tentunya seni wayang golek ini tergantung dimana ia dipentaskan dan dalam rangka apa, sehingga sifat sakralitas ini dapat dimaknai oleh konsumennya tanpa perlu interpensi langsung dari pelaku kesenian wayang golek.

Dengan garis besarnya wayang golek bukan lagi berfungsi sebagai seni atau media hiburan , pendidikan tetapi juga menjadi aspek ekonomi kreatif. Dengan adanya seni wayang golek banyak masyarakat yang terlibat seperti keterlibatan nayaga , pesinden , crew sound dan lighting, crew dokumentasi dan publikasi. Dibalik pertunjukan seni wayang golek banyak para pengrajin wayang golek yang menjual wayang golek sebagai souvenir.

(SF)

Scroll to Top