Prabunews.com – Badan Kesehatan Dunia (WHO) tengah bekerja sama dengan para ahli untuk mengubah nama penyakit cacar monyet (monkeypox). Penggantian nama ini untuk menghindari adanya stigma dan rasisme seputar nama virus penyakit tersebut.
Keputusan WHO itu menyusul laporan 30 ilmuwan internasional mengenai penggunaan nama yang tidak bersifat diskriminatif dan tidak memberikan stigma.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan akan mengumumkan nama baru dari cacar monyet secepatnya.
Mengutip laman ABC News (15/6), WHO mencatat dua varian atau turunan dari virus cacar monyet di situs resmi dengan nama: turunan Afrika Barat dan turunan Lembah Kongo.
Di sisi lain, para ilmuan sudah menyarankan satu nama baru, yakni hMPXV. Namun sedang menunggu pendapat WHO.
Sekelompok peneliti dari Afrika dan dunia berpendapat bahwa penamaan terhadap penyakit menular sebelumnya, bisa menyebutkan lokasi geografis dari tempat pertama penyakit terdeteksi.
Melansir CNBC Indonesia, nama semacam itu dapat membingungkan dan tidak akurat.
Dalam pengajuan penggantian nama ini, para ilmuwan menilai pemerian nama penyakit menular ini harus bisa meminimalisir dampak negatif terhadap suatu negara.
Seperti dari segi wilayah geografis, ekonomi, serta orang yang tinggal di daerah tempat menyebarnya virus itu.
“Kami meyakini perlu ada penanganan yang terkoordinasi karena penyebaran virus ini,” kata Tedros.
Sebagai informasi, saat ini sudah ada 1.600 kasus cacar monyet yang dilaporkan secara global dalam beberapa minggu terakhir.
Tedros juga mengatakan bahwa wabah cacar monyet ini tidak biasa dan mengkhawatirkan.
“Untuk alasan itu saya telah memutuskan untuk mengadakan Komite Darurat di bawah peraturan kesehatan internasional minggu depan, untuk menilai apakah wabah ini merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional,” terangnya.