Potret Budaya Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Yang Masih Rendah

Bandung, Prabunews.com – Kegiatan bersih-bersih di sepanjang Sungai Cikendal yang telah dilaksanakan sejak tiga hari yang lalu termasuk hari ini (11/8) oleh Satgas Citarum Harum, DPU Kota Bandung dan unsur kewilayahan ternyata masih menyisakan potret menyedihkan tentang rendahnya penghargaan dalam bentuk kepedulian masyarakat terhadap sungai.

Hal ini terlihat dari masih begitu banyaknya sampah yang dibuang masyarakat ke aliran sungai tersebut.

Sejatinya sungai yang merupakan salah satu sumber air bagi jutaan hektar sawah juga area pertanian dan peternakan harus terbebas dari limbah apapun baik limbah cair maupun padat.

Ini menjadi pertanyaan besar tentang apa yang menjadi masalah utama dari pemaksaan masyarakat oleh dirinya sendiri sehingga mereka dengan tanpa beban dan tanpa merasa bersalah masih berani membuang sampah ke sungai.

Seberapa efektif dan masifkah sosialisasi dan edukasi tentang pengelolaan sampah yang selama ini digembar-gemborkan oleh SKPD setingkat DLH, terkait juga tentang seberapa masifkah koordinasi lintas SKPD dan kewilayahan tentang upaya membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai.

Atau mungkin ada permasalahan lain sehingga masyarakat lebih memilih membuang sampah ke sungai, misal tidak adanya TPS, tidak adanya mekanisme pengelolaan sampah berbasis kewilayahan.

Anwar, petugas dari DPU Kota Bandung menyampaikan bahwa masalah sampah yang berada di aliran sungai dan menjadi bagian dari tanggung jawabnya secara nyata selalu berulang. Jadi kalau hari ini dibersihkan maka hari-hari berikutnya akan hadir kembali dan ini akan menguras energi yang sejatinya bisa digunakan untuk melakukan tugas yang lainnya.

Kita sangat memahami bahwa proses perubahan budaya tidak nyampah ke sungai bukan hal yang bisa hadir dengan instant namun apabila semua berjalan bersinergi, konsisten dan dilengkapi dengan penegakan hukum yang tepat maka besar kemungkinan percepatan hadirnya budaya baik akan segera nampak.

Semoga pada gilirannya sampah bukan lagi komoditi yang dijadikan alasan lempar tanggung jawab terlebih lagi karena sungai secara geografis lintas kewilayahan namun sampah menjadi berkah manakala kita bisa duduk dan bergerak bersama untuk mencari solusinya.

(Kang Amat)

Scroll to Top