Bandung | Prabunews.com – Bagi Sopiadi, S.H., Ketua Umum Pergerakan Rakyat Bersatu (Prabu) yang akrab disapa Adi Prabu, perjalanan hidup bukan sekadar soal naik turun pencapaian. Lebih dari itu, ada satu fase penting yang kerap luput disadari manusia: kembali ke titik awal sebagai ruang refleksi dan penataan makna hidup.
Adi Prabu memaknai “Titik Nol” sebagai fase kesadaran, ketika seseorang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk ambisi untuk menata ulang arah hidup, memperkuat nilai pribadi, dan meneguhkan fondasi keluarga. Baginya, hidup tidak selalu harus dimenangkan dengan menjadi paling depan, melainkan dengan tetap utuh sebagai manusia.
Ia menilai kehidupan bukan tentang memilih antara hitam dan putih secara kaku. Manusia diberi kebebasan menentukan sikap, namun kebijaksanaan justru lahir dari kemampuan menjaga keseimbangan, tidak terjebak pada ekstrem kepentingan pribadi maupun penilaian sempit.
Memasuki fase kematangan perjalanan profesional, Adi Prabu kini lebih menempatkan keluarga sebagai poros utama. Ia menegaskan bahwa peran orang tua tidak berhenti pada pemenuhan materi, tetapi juga pada pewarisan nilai, etika, dan karakter kepada anak-anak sebagai generasi penerus.
“Pada akhirnya, yang ditinggalkan bukan jabatan atau popularitas, melainkan nilai hidup yang tertanam pada keluarga,” tuturnya.
Sebagai praktisi hukum yang telah lama berkecimpung menangani beragam perkara dan karakter manusia, Adi Prabu mengaku banyak belajar tentang arti integritas. Ia mengingatkan para kolega dan sahabat perjuangan agar tidak terjebak konflik sesaat atau godaan keuntungan instan yang justru dapat merusak kepercayaan dan masa depan.
Melalui organisasi Prabu, ia berupaya menanamkan budaya komitmen dan konsistensi. Menurutnya, keberhasilan sejati tidak lahir dari membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, melainkan dari keteguhan menjalani proses sesuai nilai yang diyakini.
Dalam pandangannya tentang hubungan negara dan rakyat, Adi Prabu memberi perhatian khusus pada peran jurnalis. Ia menilai profesi jurnalis memiliki tanggung jawab moral yang tinggi, bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai penjaga kebenaran di ruang publik.
“Jurnalis membawa pesan nurani. Pemerintah semestinya menghormati dan melindungi suara masyarakat yang disampaikan secara jujur melalui media,” tegasnya.
Mengenai kepemimpinan di Jawa Barat, Adi Prabu menekankan pentingnya figur pemimpin yang mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Sunda. Ia mencontohkan kepemimpinan adat Baduy, di mana pemimpin bukan hanya membuat aturan, tetapi menjadi teladan utama dalam kepatuhan terhadap hukum dan norma.
“Pemimpin ideal adalah yang paling taat pada aturan, bukan sekadar penentu kebijakan. Itulah karakter kepemimpinan yang dibutuhkan Jawa Barat ke depan, membumi, jujur, dan berpihak pada rakyat,” pungkasnya.