Sawala Luhung Dan Pabaru Sunda 1963 Caka Sunda, Menjaga Harmoni Lewat “Sejarah Beri Makna”

Bandung | Prabunews.com — Rangkaian kegiatan budaya dan spiritual bertajuk Sawala Luhung Penetapan Awal Tahun dan Pabaru Sunda 1963 Caka Sunda digelar khidmat di Kota Bandung pada 24–25 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kesadaran budaya Sunda, meneguhkan jati diri manusia, sekaligus merawat harmoni kehidupan di tengah perubahan zaman modern.

Mengusung tema besar “SEJARAH BERI MAKNA” dengan penggalan filosofi “Jaman robah, Lalakon ganti ku tata anyar, Luyu kana waktu, Manjing kana wanci”.

rangkaian kegiatan berlangsung di Savoy Homann Hotel dan Batavia Cafe, Jalan Asia Afrika No.112 Kota Bandung, serta dihadiri para tokoh budaya Sunda, akademisi, komunitas adat, pegiat budaya, hingga generasi muda pemerhati warisan Nusantara.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh Sunda, di antaranya Miranda H. Wihardja (Teh Mira), Abah Enjum, Setiajaya Satria Rassidy, Kang Damanik, Abah Rahmat Basudewa, Abah Dago, Asep Ridwan, serta tokoh budaya Sunda lainnya.

SAWALA LUHUNG

Penetapan Awal Tahun 1 Suklapaksa KARTIKA 1963 Caka Sunda

Rangkaian pertama digelar pada Minggu, 24 Mei 2026 di Savoy Homann Hotel Bandung. Kegiatan tersebut menjadi ruang musyawarah luhur dan refleksi budaya untuk membaca arah perubahan zaman, memahami makna pergantian siklus waktu Sunda, serta menyelaraskan kembali hubungan manusia dengan diri, masyarakat, alam, dan semesta.

Dalam forum budaya tersebut dibahas penetapan pergantian menuju: Tahun (3): Hurang Tembey, Windu (2): Kuntara yang dimaknai sebagai perjalanan kesadaran menuju harmoni baru.

Secara filosofis, Hurang Tembey merepresentasikan kepekaan, keterhubungan, kebersamaan, dan kesadaran sosial. Sementara Windu Kuntara mengandung makna keteguhan, keluasan pandangan, serta keseimbangan dalam menghadapi perubahan zaman.

Dalam kosmologi Sunda, penetapan awal tahun bukan sekadar menentukan hitungan waktu, melainkan meneguhkan arah kesadaran hidup manusia.

Berbagai rangkaian kegiatan digelar dalam Sawala Luhung, mulai dari ritual penetapan awal tahun Caka Sunda, sawala budaya dan kosmologi Sunda, orasi ilmiah, refleksi kesadaran, simbol paraketan dan tumpeng Pajajaran, hingga doa harmoni dan peneguhan kesadaran kolektif.

PABARU SUNDA 1963 Caka Sunda (Menguatkan Jati Diri Utuh Menjadi Manusia)

Puncak kegiatan dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026 melalui PERAYAAN Awal Tahun 1 Suklapaksa KARTIKA 1963 Caka Sunda yang berlangsung di Batavia Cafe Savoy Homann Hotel, Jalan Asia-Afrika No.112 Kota Bandung.

Dalam kesempatan tersebut, Teh Miranda sebagai pendiri Bestdaya (Bengkel Studi Budaya), Pengelola kalender sunda sekaligus menyampaikan setting awal Tahun Baru 1963 Caka Sunda yang dimulai pada “Soma Wage, 1 Suklapaksa, Kartika 1963 Caka Sunda”. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa Tahun 1963 Caka Sunda mengusung tema perjalanan alam dan kesadaran waktu, yakni: “Sejarah Beri Makna, Membaca Waktu, Merawat Harmoni.” Tema tersebut mengandung makna penting tentang bagaimana manusia memahami perjalanan sejarah dan ritme zaman, sekaligus memiliki kemampuan untuk membaca arah kehidupan serta menentukan langkah-langkah yang bijaksana untuk masa depan dan menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan ruang pembelajaran agar manusia mampu memahami perjalanan hidup dan memberi makna terhadap waktu yang dijalani.

Pabaru Sunda juga dimaknai sebagai momentum menguatkan jati diri manusia agar tetap memiliki kesadaran budaya, keteguhan nilai, serta harmoni hidup di tengah arus modernisasi.

Dalam refleksi budaya yang berkembang di kegiatan tersebut, manusia diajak kembali memahami hakikat kehidupan sebagai manusia yang utuh, yakni manusia yang mampu menjaga hubungan dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta.

Perayaan berlangsung khidmat dan sarat nuansa budaya Sunda. Selain prosesi budaya dan doa bersama, acara juga diisi dengan performance Tarawangsa, refleksi budaya, simbol Paraketan dan Tumpeng Pajajaran, hening bersama menyongsong tata waktu baru, serta peneguhan kesadaran kolektif masyarakat Sunda.

Membaca Waktu, Menjaga Harmoni

Dalam kegiatan tersebut mengemuka pesan bahwa manusia tidak hanya hidup di dalam waktu, tetapi juga dibentuk oleh cara memahami dan memberi makna terhadap perjalanan waktunya sendiri.

Karena itu, pergantian tahun Sunda dipandang bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum spiritual dan budaya untuk memperkuat kesadaran hidup, menjaga keseimbangan, serta menata kembali harmoni kehidupan.

Zaman boleh berubah dan tata kehidupan terus berkembang, namun nilai-nilai budaya Sunda diyakini tetap relevan sebagai pijakan moral dan spiritual masyarakat dalam menghadapi masa depan.

Melalui rangkaian Sawala Luhung dan Pabaru Sunda 1963 Caka Sunda, masyarakat diajak untuk terus merawat warisan pengetahuan Nusantara, menjaga harmoni, serta memperkuat jati diri budaya sebagai bagian dari perjalanan peradaban manusia.

Scroll to Top