Eddy Sunarto menjelaskan, Bukit Rompe yang berada diperbatasan Desa Selasari Kec. Kawali dengan Desa Cikupa Kec. Lumbung Kab. Ciamis, adalah susunan batuan hasil proses alami geologis dan diduga kuat bentukan dari batuan beku vulkanik.

“Berdasar penelitian awal, dari singkapan tampak rekahan-rekahan diantara batu. Rekahan ini membentuk garis-garis yang seolah-olah susunan batu yang dibentuk, namun kami berkeyakinan kalau rekahan ini sebetulnya hasil erosi air yang membawa lapukan material mineral batuan. dinding Bukit Rompe tersebut tersingkap dari hasil longsoran alami yang terjadi berulang-ulang sehingga tampak susunan batu yg terlihat seolah-olah relatif rapi. Setelah kami telusuri, bebatuan Bukit Rompe memanjang dari timurlaut-baratdaya dengan jenis dan susunan yang sama,” jelas Eddy.
Sementara Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Erick Henriana, mengatakan walaupun sudah terbukti bukan tinggalan percandian kerajaan Galuh sebagaimana yang diisukan, tetapi kawasan tersebut harus diselamatkan.
“Karena sekitar 2,5 kilometer dari kawasan Bukit Rompe, tim menemukan sejumlah temuan arkeologis Arca Polinesia yang diduga merupakan peninggalan masa Pajajaran,” ujar Erick.
Berdasarkan penemuan tersebut menurut Erick, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan Pemda Ciamis dan Balai Arkeologi untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Sementara kepada masyarakat yang dalam beberapa pekan terakhir ini diramaikan dengan isu masalah kerajaan Sunda, diharapkan tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.
(Mz)